Pengamat intelijen dan geopolitik Amir Hamzah mengatakan, konflik Rusia-Ukraina, perang di Timur Tengah, eskalasi Laut China Selatan, rivalitas Amerika Serikat-China, hingga meningkatnya ancaman proxy war membuat Indonesia harus bersikap realistis.
Menurutnya, Presiden Prabowo Subianto memahami bahwa Indonesia tidak bisa hanya menjadi penonton dalam perubahan besar tatanan dunia.
“Presiden Prabowo tahu, dunia sedang masuk fase turbulensi geopolitik. Dalam situasi seperti ini, negara yang lemah akan menjadi objek permainan kekuatan besar. Karena itu Indonesia harus memperkuat daya tangkalnya," kata Amir.
Ia menegaskan, pembentukan Kodam baru bukan semata urusan administratif, tetapi upaya memperpendek rantai komando pertahanan agar respon terhadap ancaman menjadi lebih cepat dan efektif.
Amir menilai, penambahan Kodam sangat penting terutama untuk wilayah strategis dan rawan seperti Papua, Kalimantan perbatasan, Natuna, Sulawesi, Maluku, hingga kawasan timur Indonesia.
Menurutnya, Prabowo memahami bahwa ancaman terbesar terhadap NKRI bukan hanya serangan luar, tetapi juga potensi disintegrasi dari dalam yang sering kali dipicu oleh ketimpangan pembangunan dan lemahnya kehadiran negara.
“Kalau negara terlambat hadir, maka ruang kosong itu akan diisi oleh kelompok separatis, kepentingan asing, atau kekuatan non-negara. Kodam adalah simbol kehadiran negara," kata Amir.
Ia menambahkan bahwa stabilitas keamanan menjadi syarat utama keberhasilan agenda pembangunan nasional Prabowo, termasuk hilirisasi industri, swasembada pangan hingga ketahanan energi.
BERITA TERKAIT: