Koordinator Pusat BEM KSI Charles menegaskan bahwa kemerdekaan tidak boleh sekadar berhenti pada perayaan seremonial tahunan.
"Kemerdekaan harus kita maknai sebagai tanggung jawab bersama. Generasi muda tidak cukup hanya menjadi penonton, tetapi harus mengambil peran dalam menjaga persatuan dan memberikan kontribusi nyata bagi Indonesia," ujar Charles.
Senada dengan itu, Koordinator Pusat BEM Pesantren Seluruh Indonesia, Ahmad Tomy menilai tantangan generasi muda saat ini jauh berbeda dibandingkan era perjuangan fisik di masa lalu. Menurut Tomy, musuh utama bangsa saat ini bergeser ke ranah sosial dan digital.
"Perjuangan hari ini bukan lagi melawan penjajahan secara fisik, tetapi melawan kebodohan, kemiskinan, hoaks, korupsi, dan perpecahan. Kemerdekaan adalah amanah yang harus kita rawat bersama," tegas Tomy.
Ia membeberkan, pemuda saat ini memegang lima peran strategis, yakni sebagai penjaga persatuan, penggerak perubahan, pengguna teknologi yang bertanggung jawab, pelestari identitas bangsa, hingga calon pemimpin masa depan.
Sementara itu, Koordinator Pusat Forum Komunikasi BEM/DEMA Perguruan Tinggi Agama Islam se-Indonesia, Fathammubina menyoroti pentingnya merawat persaudaraan kebangsaan di tengah keberagaman suku, budaya, organisasi, hingga perbedaan preferensi politik.
Ia mengingatkan generasi muda agar tidak terjebak dalam mentalitas berpolitik yang memecah belah atau terjebak dalam polarisasi kelompok.
"Kita boleh berbeda pilihan, tetapi tetap satu sebagai anak bangsa. Perbedaan pendapat adalah bagian dari demokrasi, tetapi jangan sampai perbedaan tersebut berubah menjadi kebencian dan permusuhan," ungkap Fathammubina.
Rangkaian acara refleksi kemerdekaan lintas kelompok mahasiswa tersebut ditutup secara khidmat dengan agenda pembacaan puisi bersama.
BERITA TERKAIT: