Menurutnya, pernyataan tersebut merupakan analisis pribadi, bukan ajakan politik. Ia menyerahkan pembuktiannya kepada waktu.
“Saya enggak menarik pernyataan saya,” kata Budi Arie, dikutip Minggu 30 Agustus 2029.
Budi Arie menjelaskan, analisis dan ajakan politik merupakan dua hal yang berbeda. Ia menyebut pernyataannya disampaikan dalam konteks membaca berbagai kemungkinan dalam dinamika politik.
“Kita bukan berkehendak, tapi beranalisa. Kalau kehendak politik, kemampuan politik, dan analisa politik, dua hal yang beda,” kata Budi Arie.
Ia sebelumnya menyebut dalam politik terdapat
art of possibility atau seni kemungkinan. Menurut Budi Arie, membicarakan berbagai kemungkinan tidak berarti menginginkan hal tersebut benar-benar terjadi.
“Jadi kita bisa bicara tentang berbagai kemungkinan-kemungkinan atau dalam bahasa yang lebih lugas disebut kira-kiraan keadaan,” kata Budi Arie.
Budi Arie menegaskan analisis tersebut juga tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk mempercepat Pemilu 2029. Ia justru menyebut pentingnya tetap menjaga demokrasi dan konstitusi.
“Bukan ajakan loh, analisa. Beda kan? Saya enggak berusaha meng-encourage atau mengajak,” kata Budi Arie.
Ia mengatakan, analisis tersebut muncul dari pengamatan terhadap dinamika masyarakat, termasuk munculnya gerakan mahasiswa dan masyarakat.
“Ada kegelisahan soal dinamika masyarakat. Ada tren baru gerakan mahasiswa, gerakan masyarakat. Ini harus kita kelola,” pungkas Budi Arie.
BERITA TERKAIT: