Menteri Sosial Saifullah Yusuf mengatakan temuan tersebut menjadi salah satu hasil pelaksanaan program Sekolah Rakyat yang terus diperluas pemerintah.
"Kami menemukan apa yang selama ini disebut Bapak Presiden sebagai kelompok invisible. Banyak anak yang belum pernah sekolah, tidak sekolah, atau putus sekolah," kata Saifullah Yusuf, Minggu, 7 Juni 2026.
Ia menyampaikan perkembangan program tersebut kepada Presiden Prabowo Subianto, termasuk pelaksanaan open house yang digelar serentak di berbagai daerah untuk memperkenalkan proses pembelajaran kepada calon siswa dan orang tua.
Menurut Gus Ipul, peserta Sekolah Rakyat diprioritaskan berasal dari keluarga yang tercatat dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).
"Yang bisa sekolah di sini adalah mereka yang berada di Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN). Jika belum terdata, maka akan dilakukan pemutakhiran dan ground check," ujarnya.
Saat ini, lebih dari 15 ribu siswa telah mengikuti program Sekolah Rakyat. Pemerintah juga menyiapkan tambahan lebih dari 32 ribu kursi pada tahun ajaran 2026-2027.
Dengan penambahan tersebut, jumlah peserta didik Sekolah Rakyat tahun ini ditargetkan mencapai lebih dari 45 ribu siswa.
Pemerintah selanjutnya menargetkan jumlah peserta didik Sekolah Rakyat menembus lebih dari 100 ribu siswa pada 2028, seiring pembangunan gedung permanen di berbagai daerah.
BERITA TERKAIT: