Analis geopolitik Laksda TNI (Purn) Surya Wiranto menyebut pertemuan itu makin meneguhkan posisi Tiongkok sebagai penjaga stabilitas dunia.
“Dengan leverage ekonomi, hubungan erat dengan Iran, dan kepentingan menjaga stabilitas energi dunia, Tiongkok berpotensi memperkuat posisinya sebagai global stabilizer dalam arsitektur diplomasi internasional baru,” kata Surya dalam keterangan yang diterima redaksi di Jakarta, Rabu malam, 13 Mei 2026.
Penasihat Indo-Pacific Strategic Intelligence (ISI) ini menyebut kedatangan Trump merupakan bentuk kekhawatiran terkait kebutuhan energi dalam negeri AS.
“Washington datang ke Beijing dalam posisi tertekan akibat krisis energi, gangguan rantai pasok, dan tekanan domestik menjelang pemilu sela.
Amerika Serikat kini membutuhkan pengaruh Tiongkok terhadap Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz dan menurunkan eskalasi kawasan,” jelasnya.
Surya menyebut Tiongkok terbilang sukses dalam menjadi mediator untuk mewujudkan perdamaian dunia.
“Situasi ini menandai pergeseran dari American-led order menuju negotiated multipolarity, di mana Beijing tampil sebagai indispensable power sekaligus mediator strategis global,” pungkasnya.
BERITA TERKAIT: