Menariknya, sekitar 87 persen dari 1.500 pelaku usaha di sektor ini merupakan UMKM, menjadikan industri kecantikan sebagai salah satu motor ekonomi kreatif nasional.
Melihat potensi tersebut, TikTok menggelar festival online-to-offline (O2O) "TikTok ForYouBeauty" sepanjang Mei-Juni 2026. Melalui ajang ini, TikTok mempertemukan kreator, brand, dan komunitas dalam satu ekosistem yang terintegrasi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi digital.
Dampak ekonominya tercermin dari kinerja kategori kecantikan di TikTok Shop by Tokopedia yang mencatat pertumbuhan nilai transaksi bruto (GMV) lebih dari 60 persen per tahun.
"Melalui TikTok ForYouBeauty, kami ingin menghadirkan ruang bagi komunitas kecantikan untuk saling terhubung, berbagi inspirasi, dan merayakan keberagaman ekspresi kecantikan Indonesia," ujar Client Partnerships Solution Manager TikTok Indonesia, Christopher Junaidi.
Model bisnis yang menggabungkan konten, kreator, komunitas, dan transaksi digital juga terbukti mampu mendorong pertumbuhan penjualan brand lokal. Head of Brand Hanasui, Kidung Jagad Wening, mengatakan kolaborasi dengan TikTok membantu perusahaan menjangkau audiens yang lebih relevan sekaligus meningkatkan penjualan.
"Melalui TikTok, Hanasui dapat memperluas jangkauan pemasaran melalui kolaborasi kreator serta mendorong pertumbuhan penjualan sebesar 35 persen pada kuartal I 2026," ujarnya.
Selain menguntungkan pelaku usaha, tren discovery commerce juga membuka sumber pendapatan baru bagi kreator dan afiliator kecantikan. Konten ulasan, rekomendasi produk, dan kolaborasi komersial kini menjadi bagian dari rantai nilai ekonomi digital yang mampu menggerakkan keputusan pembelian konsumen.
Dengan melibatkan lebih dari 60 merek kosmetik, TikTok ForYouBeauty diharapkan semakin memperkuat peran ekonomi kreatif berbasis digital sekaligus menghubungkan kreativitas konten dengan pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan.
BERITA TERKAIT: