Inilah Rahasia Ketangguhan Iran Hadapi Barat-Zionis

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/widodo-bogiarto-1'>WIDODO BOGIARTO</a>
LAPORAN: WIDODO BOGIARTO
  • Jumat, 08 Mei 2026, 04:22 WIB
Inilah Rahasia Ketangguhan Iran Hadapi Barat-Zionis
Duta Besar (Dubes) Iran untuk Indonesia, YM Mohammad Boroujerdi. (Foto: Istimewa)
rmol news logo Rahasia ketangguhan Iran dalam menghadapi tekanan dunia Barat-Zionis diungkap Duta Besar (Dubes) Iran untuk Indonesia, YM Mohammad Boroujerdi saat mengisi kuliah umum di Universitas Islam As-Syafi'iyah (UIA), Kota Bekasi, Jawa Barat, pada Rabu 6 Mei 2026.

Boroujerdi menggambarkan kondisi Iran sebelum Revolusi pada 1979, secara umum masih tertinggal, terutama di sektor pendidikan. Tingkat melek huruf pada masa pemerintahan shah hanya sekitar 30 persen. Adapun 70 persen sisanya ialah masyarakat yang masih buta huruf. Kondisi lebih memprihatinkan bagi kalangan perempuan Iran.

Imam Khomeini merupakan tokoh sentral Revolusi Islam Iran 1979. Ia adalah seorang pemimpin yang bervisi jauh ke depan. 

Boroujerdi menuturkan, tokoh yang wafat pada 3 Juni 1989 itu menempatkan persatuan dan penguatan pendidikan rakyat sebagai dua pilar utama untuk membangun Republik Islam Iran.

“Setelah kemenangan Revolusi Islam Iran tahun 1979, negara kami dibangun sebagai republik yang mencakup seluruh golongan dalam Islam,” kata Boroujerdi, dikutip Kamis 7 Mei 2026.

Dalam pandangan Imam Khomeini, kebangkitan umat Islam perlu ditopang oleh penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Hal ini pun dibuktikan di Iran.

“Beliau (Imam Khomeini) menekankan pentingnya pendalaman sains dan teknologi, terutama melalui sektor pendidikan,” kata Boroujerdi.

Persatuan umat Islam dan kemampuan menguasai iptek menjadi momok yang menakutkan bagi Israel. 

Boroujerdi mengatakan, sejak Revolusi 1979 negara-negara Barat dan Zionis terus menerus berusaha melemahkan Iran. Itu dilakukan dengan pelbagai cara; mulai dari propaganda yang melabeli Revolusi sebagai gerakan sektarian hingga konflik bersenjata yang berlangsung selama delapan tahun.

"Mereka menjalankan propaganda untuk menyampaikan bahwa Revolusi Islam Iran merupakan revolusi Syiah, bukan revolusi Islam, dan memberikan cap atau label tertentu kepada gerakan Islami dari masyarakat," kata Boroujerdi.

Sementara Ketua Yayasan Perguruan Islam As-Syafi’iyah Prof Dailami Firdaus menyampaikan apresiasi atas kunjungan Dubes Iran. Menurut dia, lawatan ini bukan sekadar agenda diplomatik, melainkan juga simbol hubungan yang terus berkembang antara Indonesia dan Iran.

“Kami berharap, kunjungan ini menjadi katalis untuk memperkuat kerja sama, khususnya dalam pendidikan tinggi, riset, dan pengembangan sumber daya manusia berbasis nilai etika dan keunggulan ilmiah,” kata Dailami.

Dailami menegaskan, UIA berkomitmen mengintegrasikan nilai-nilai Islam dengan ilmu pengetahuan modern serta mencetak lulusan yang berakhlak dan berkontribusi bagi masyarakat.

“Kami percaya pendidikan bukan sekadar transfer ilmu, tetapi juga pembentukan karakter untuk memberi manfaat bagi dunia,” kata Dailami. rmol news logo article

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA