Teheran menilai resolusi tersebut bukan solusi damai, melainkan manuver politik yang berpotensi memperuncing ketegangan di salah satu jalur maritim paling strategis di dunia.
Perwakilan Iran untuk PBB secara terbuka meminta seluruh anggota DK PBB agar tidak memberikan dukungan maupun menjadi sponsor bersama atas draft resolusi AS tersebut.
“Satu-satunya solusi yang layak di Selat Hormuz sudah jelas: mengakhiri perang secara permanen, mencabut blokade maritim, dan memulihkan jalur pelayaran normal.” ungkap Perwakilan dalam unggahan di platform X, seperti dikutip dari
Iran International, Kamis, 7 Mei 2026.
Bagi Iran, penyelesaian krisis di Selat Hormuz tidak dapat dicapai melalui resolusi politik yang dianggap berpihak, melainkan dengan penghentian perang secara permanen, pencabutan blokade maritim, serta pemulihan jalur pelayaran normal bagi semua pihak.
AS menggandeng Bahrain, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Qatar menekan Iran melalui resolusi yang diserahkan kepada DK PBB.
Draf resolusi tersebut mengecam dugaan pelanggaran gencatan senjata oleh Iran, termasuk aksi penyerangan, penanaman ranjau, serta ancaman penutupan dan pungutan terhadap kapal-kapal komersial di Selat Hormuz.
Dokumen itu menuntut Teheran segera menghentikan serangan, membuka lokasi ranjau, dan tidak menghalangi operasi pembersihan maupun jalur bantuan kemanusiaan.
BERITA TERKAIT: