Kritik tersebut muncul setelah berbagai persoalan pelayanan hingga keselamatan transportasi kereta api dinilai belum dibenahi secara serius. Kondisi itu dianggap mencerminkan lemahnya kepemimpinan di tubuh KAI saat ini.
Direktur Eksekutif Studi Demokrasi Rakyat (SDR), Hari Purwanto, menilai Direktur Utama KAI seharusnya berani mengambil tanggung jawab dengan mengundurkan diri apabila tidak mampu meningkatkan kinerja perusahaan.
“Dirut KAI harus berani mundur dari jabatannya sebab era saat ini KAI seperti jauh dari profesionalisme dan arah menuju kemajuan KAI sesuai arah dan kebutuhan pelanggan pemakai KAI,” kata Hari kepada RMOL, Kamis, 7 Mei 2026.
Menurut Hari, sorotan publik tidak hanya terkait kualitas pelayanan, tetapi juga menyangkut aspek keselamatan penumpang yang dinilai menjadi taruhan akibat menurunnya kualitas pengelolaan perusahaan pelat merah tersebut.
“Jika Dirut KAI tidak mundur karena gagal meningkatkan kinerja KAI, maka KAI akan mengalami kemunduran dan kemerosotan atas kinerja Dirut KAI saat ini bagian dari dampak saat ini,” tegasnya.
Ia menilai kondisi tersebut memalukan apabila tidak diikuti langkah tanggung jawab moral dari pimpinan tertinggi perusahaan. Terlebih, berbagai persoalan yang terjadi disebut telah berdampak langsung terhadap rasa aman dan kepercayaan masyarakat pengguna transportasi kereta api.
“Sangat malu jika kemerosotan kinerja KAI tidak diikuti mundur Dirut KAI, bahkan sampai mengorbankan nyawa pengguna kereta,” ujarnya.
Hari menambahkan, desakan agar Bobby Rasyidin mundur merupakan bentuk evaluasi moral atas kepemimpinan yang dianggap gagal memenuhi ekspektasi publik terhadap modernisasi dan profesionalisme layanan KAI.
“Berani mundur itu terhormat,” pungkas Hari.
BERITA TERKAIT: