Wakil Ketua Komisi XI DPR RI, Fauzi Amro, mengatakan konflik berkepanjangan di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat telah mendorong harga minyak global melampaui asumsi dalam APBN.
“Kondisi fiskal kita memang sedang tertekan. Namun ini bukan hanya dialami Indonesia, melainkan dampak dari situasi geopolitik dunia yang belum juga mereda,” kata Fauzi, Selasa, 5 Mei 2026.
Ia menjelaskan, dalam APBN pemerintah menetapkan asumsi harga minyak sebesar 70 dolar AS per barel. Namun realisasi saat ini telah menembus 100 dolar AS per barel, atau melonjak sekitar 30 dolar di atas asumsi awal.
Kenaikan tersebut berdampak signifikan terhadap beban subsidi energi. Fauzi memaparkan, setiap kenaikan US$1 per barel akan menambah beban subsidi sekitar Rp6,8 triliun hingga Rp7 triliun.
“Jika kenaikan mencapai US$30, maka tambahan beban subsidi bisa menyentuh sekitar Rp210 triliun. Ini angka yang sangat besar dan tentu memberi tekanan serius pada APBN,” jelas legislator NasDem dari Dapil Sumsel I itu.
Meski demikian, ia menegaskan kondisi keuangan negara masih dalam batas aman. Fauzi mengutip pernyataan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia yang menyebut APBN tetap terjaga meski harga minyak menyentuh 100 dolar AS per barel.
Selain itu, pemerintah disebut masih memiliki bantalan fiskal yang cukup kuat, salah satunya melalui Sisa Anggaran Lebih (SAL) sebesar Rp425 triliun.
“Dengan cadangan tersebut, pemerintah masih memiliki ruang untuk mengantisipasi tekanan yang ada. Bahkan hingga akhir tahun, subsidi diperkirakan tidak akan kembali mengalami kenaikan signifikan,” pungkasnya.
BERITA TERKAIT: