Ketua Umum DPP Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), Haris Pertama, menyoroti kehadiran Presiden yang dinilai tidak sekadar simbolik, melainkan menunjukkan pendekatan kepemimpinan yang terbuka terhadap kalangan buruh.
"Ia berjabat tangan, menyapa, bahkan sesekali memeluk buruh yang antusias menyambut kehadirannya. Interaksi tersebut berlangsung cair dan spontan, menciptakan suasana yang lebih hangat," kata Haris dalam keterangannya kepada
RMOL, Jumat malam, 1 Mei 2026.
Haris menilai momen tersebut mencerminkan upaya membangun komunikasi langsung antara pemerintah dan masyarakat pekerja di tengah dinamika ketenagakerjaan saat ini.
"Presiden hadir tidak hanya secara seremonial, tetapi benar-benar berinteraksi. Ini menunjukkan kepedulian yang nyata sekaligus komitmen untuk mendengar langsung aspirasi buruh," terang Haris.
Haris menambahkan, pendekatan tanpa sekat seperti yang terlihat dalam peringatan May Day kali ini dapat menjadi modal penting dalam memperkuat hubungan antara pemerintah dan kalangan pekerja.
"Dengan komunikasi yang lebih dekat, ruang dialog menjadi lebih terbuka dan potensi kesalahpahaman dapat ditekan," kata Haris.
Menurutnya, kehadiran presiden di tengah peringatan yang kerap diwarnai aksi unjuk rasa juga menunjukkan kepercayaan diri pemerintah dalam mengelola dinamika demokrasi secara terbuka.
"Ketika pemimpin hadir langsung, suasana menjadi lebih cair. Ini membuka ruang bagi dialog yang lebih konstruktif, sehingga kebijakan yang diambil bisa lebih responsif terhadap kondisi nyata di lapangan," kata Haris.
Haris berharap momentum May Day 2026 tidak berhenti sebagai peristiwa sesaat, tetapi berlanjut dalam komunikasi yang berkesinambungan antara pemerintah dan buruh.
"Semoga May Day 2026 ini jadi momentum komunikasi berkesinambungan antara pemerintah dan kalangan buruh sehingga terbangun hubungan industrial yang positif dalam menumbuhkan ekonomi nasional," pungkas Haris.
BERITA TERKAIT: