Pantauan
RMOL, kelompok buruh perempuan itu membawa spanduk bertuliskan "Aliansi Perempuan Indonesia".
Di bagian bawah nama Aliansi Perempuan Indonesia, poster itu menuliskan kata-kata "Demokrasi Diujung Tanduk".
Menariknya, dalam poster-poster kecil yang dibawa massa aksi Aliansi Perempuan Indonesia ini, ada sejumlah tuntutan dan juga sindiran kepada rezim.
Salah satunya permintaan kepada pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) untuk segera merevisi Undang Undang Tindak Pidana Perdagangan Orang (UU TPPO).
"Segera revisi UU Tindak Pidana Perdagangan Orang. Kerja paksa = TPPO," tulis poster yang dibawa seorang perempuan massa aksi.
Bahkan, sebuah satire dituliskan pada sebuah poster, yang ditujukan kepada Sekretaris Kabinet (Seskab), Teddy Indra Wijaya.
Sindiran kepada Teddy disampaikan dalam bentuk pantun, dan menyinggung soal perayaan ulang tahun Teddy yang sempat disorot publik pengguna media sosial, karena berlangsung saat kunjungan kerja Presiden Prabowo ke Perancis.
"Hari Senin itu Monday. Pekerja golf itu caddy. Lebih penting peringati may day daripada ultahnya Teddy," tulis poster tersebut menyindir Teddy.
Tak cuma itu, kritik serta harapan untuk kesejahteraan buruh-buruh Indonesia, juga disampaikan Aliansi Perempuan Indonesia ini, lewat poster-poster mereka.
"Kerja layak bukan diperbudak," tulis mereka dalam posternya.
"Buruh adalah lapisan terbawah dari rantai pasok global. Tapi paling pertama terkena dampak buruk dari krisis," demikian bunyi pesan Aliansi Perempuan Indonesia dalam poster lainnya.
BERITA TERKAIT: