"BBM itu kan bukan sekadar komoditas ekonomi, tapi juga komoditas politik yang sensitif atau langsung menyentuh kehidupan sehari-hari masyarakat," katanya kepada RMOL, Senin, 6 April 2026.
Di satu sisi, pemerintah ingin menjaga daya beli dan stabilitas sosial, karena kenaikan BBM hampir pasti akan berdampak pada inflasi dan bisa memicu gelombang protes.
"Tapi di sisi lain, kalau subsidi ini terus dipertahankan, beban fiskal negara juga akan semakin berat," jelasnya.
Maka dari itu, Fatta memandang ini adalah bentuk tarik-menarik antara kepentingan ekonomi dan kepentingan politik. Pemerintah pun tampaknya sedang menunda risiko politik dalam jangka pendek, sambil mencari momentum yang tepat untuk mengambil keputusan yang sebenarnya tidak populer.
"Pertanyaannya sekarang bukan apakah BBM akan naik atau tidak, tapi kapan waktu yang dianggap paling aman secara politik untuk menaikkan harga itu? Karena cepat atau lambat, tekanan fiskal ini akan memaksa pemerintah mengambil keputusan," pungkasnya.
BERITA TERKAIT: