Prabowo Kibarkan Bendera Perang kepada Koruptor saat Rupiah Rp18.100

Jumat, 05 Juni 2026, 06:00 WIB
Prabowo Kibarkan Bendera Perang kepada Koruptor saat Rupiah Rp18.100
Presiden Prabowo Subianto. (Foto: Setneg)
SUNGGUH hari yang membingungkan bagi rakyat Indonesia. Pagi-pagi kita mendengar Presiden Prabowo Subianto mengumumkan perang besar terhadap koruptor. Siangnya, rupiah meluncur ke kisaran Rp18.100 per dolar AS seperti anak kecil yang menemukan perosotan baru di taman bermain.

Rakyat pun terbelah menjadi dua kelompok. Kelompok pertama bertepuk tangan mendengar pidato Presiden. Kelompok kedua bertepuk jidat melihat kurs dolar. Sisanya bingung harus tepuk apa.

Di Sentul, Prabowo tampil seperti jenderal yang baru menemukan markas bajak laut. Suaranya tegas, wajahnya serius, kalimatnya membuat para pemburu koruptor mungkin langsung mengecas laptop dan membeli kopi satu dus.

"Kepala BPKP, apa yang kau butuh? Kalau kau perlu tambahan personel, berapa saja kau butuh, saya penuhi. Ketua KPK, berapa saja yang kau perlu? Lapor, saya penuhi. Jaksa Agung, berapa saja yang kau perlu saya penuhi."

Ini bukan lagi pidato. Ini sudah seperti event top-up game level sultan. Kurang penyidik? Tambah. Kurang auditor? Tambah. Kurang mobil operasional? Tambah. Kurang gedung? Tambah. Kurang semangat? Tambah dua karung. Kurang istri….ups, “Bang, ingat umur!” Maaf keseleo.

Kalau ada petugas yang bilang, "Pak, kami butuh drone, satelit, dan tiga ekor elang untuk memburu koruptor," publik mulai curiga Presiden akan menjawab, "Ajukan proposalnya."

Para koruptor yang mendengar pidato itu mungkin langsung memeluk brankas masing-masing sambil berkeringat. Ada yang pura-pura tidur. Ada yang mendadak rajin beribadah. Ada pula yang mungkin mulai Googling, "Cara hidup sederhana di kamar tahanan."

Namun bagian paling dramatis bukan itu. Prabowo mengaku sedih. Bukan sedih karena rupiah sedang menyentuh level yang membuat kalkulator berkeringat. Bukan sedih karena harga barang impor mulai menatap langit. Beliau sedih karena orang-orang yang dipercaya justru terseret masalah.

Dadan Hindayana, Lodewyk Pusung, dan Sony Sanjaya disebut sebagai orang yang disayang dan dipercaya. Ini membuat suasana berubah dari film perang menjadi dracin “CEO yang menyamar jadi koki SPPG”

Ada kepercayaan, pengkhianatan, kekecewaan. Kurang satu adegan hujan dan musik biola saja sudah bisa tayang prime time.

Prabowo menegaskan, mengganti mereka bukan keputusan ringan. Tentu saja tidak ringan. Kepercayaan itu mahal. Kadang lebih mahal dari harga minyak dunia yang sekarang sedang naik seperti roket yang lupa cara turun.

Sementara itu, bangsa Indonesia menunjukkan bakat alaminya yang luar biasa. Ketika Presiden sedang pidato tentang korupsi, internet malah heboh membahas nasi MBG yang menurut beliau tidak kalah dengan nasi restoran Jepang.

Luar biasa. Korupsi triliunan dibahas lima menit. Nasi pulen dibahas lima hari.

Netizen langsung berubah menjadi pakar beras internasional. Ada menganalisis tekstur. Ada membahas tingkat kepulenan. Ada menyiapkan tesis doktoral berjudul "Hubungan Strategis Antara Ketahanan Nasional dan Kelembutan Nasi."

Di luar gedung, rupiah terus berpetualang. Angka Rp18.000 dilewati seperti portal menuju dunia lain. Importir mulai memandangi dolar seperti warga melihat harga cabai menjelang Lebaran. Investor asing kabur ke aset aman. Harga minyak naik. Konflik Timur Tengah memanas.

Ekonom mulai berbicara menggunakan grafik. Rakyat mulai berbicara menggunakan doa. Terjadilah pemandangan yang sangat Indonesia. Di satu sisi, Presiden menghunus pedang melawan koruptor. Di sisi lain, rupiah sedang bertarung melawan gravitasi ekonomi global.

Publik pun dibuat kagum sekaligus khawatir. Kagum karena Presiden terdengar siap memburu koruptor sampai ke ujung antarika. Khawatir karena kurs dolar terlihat lebih cepat naik dari harga tanah di dekat jalan tol.

Kini rakyat hanya bisa menonton babak berikutnya. Apakah perang terhadap koruptor akan menghasilkan sejarah besar? Ataukah koruptor akan kembali bermetamorfosis seperti tokoh antagonis sinetron yang selalu hidup lagi setelah episode terakhir?

Yang jelas, Indonesia kembali membuktikan dirinya sebagai negeri paling kreatif di dunia. Di negara lain, pidato presiden menghasilkan diskusi ekonomi. Di sini, menghasilkan perang terhadap koruptor, debat kualitas nasi, meme bertebaran, dan kepanikan melihat kurs dolar dalam waktu bersamaan.

“Bang, saya kagum Prabowo perang kepada koruptor. Bila perlu perangnya sampai ke Kalbarlah.”

“Sepakat, wak. Cuma, KPK perlu tambah ilmu lagi. Soalnya, koruptor di daerah kite sangat lihai.” Upsrmol news logo article

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA