Soal BoP: Jangan Tutup Peluang Kebaikan, Tapi Harus Waspada

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/faisal-aristama-1'>FAISAL ARISTAMA</a>
LAPORAN: FAISAL ARISTAMA
  • Jumat, 03 April 2026, 13:26 WIB
Soal BoP: Jangan Tutup Peluang Kebaikan, Tapi Harus Waspada
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Ukhuwah, KH Dr. Muhammad Zaitun Rasmin, Lc., M.A (Tangkapan layar RMOL dari WahdahTV)
rmol news logo Perubahan sikap Amerika Serikat yang perlahan mulai berpisah dengan sekutu-sekutu negara Barat yang selama ini menjadi pendukung utama Zionis Israel, disorot Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Ukhuwah, KH Dr. Muhammad Zaitun Rasmin, Lc., M.A. 

Zaitun Rasmin menilai bahwa dinamika tersebut setidaknya bisa saja dianggap sebagai sebuah peluang seiring bergabungnya Indonesia dengan Board of Peace (BoP) yang memperjuangkan kemerdekaan Palestina. 

Ia pun mengingatkan bahwa umat Islam tidak boleh menutup peluang kebaikan, meskipun tetap harus waspada.

"Baru pertama kalinya Amerika ini berpisah dengan sekutu-sekutunya di Barat yang selama ini selalu menjadi pendukung utama dari Zionis Israel. Maka paling tidak ini dianggap sebagai peluang," ujarnya, dikutip dari WahdahTV, Jumat, 3 April 2026.

Lebih lanjut, Zaitun menjelaskan bahwa dalam ajaran Islam, umat tetap selalu waspada namun tidak boleh menutup peluang kebaikan, sekalipun dari iblis sekalipun terkadang ada kebaikan. Menurutnya, konsep Islam mengajarkan bahwa setiap kebaikan patut didukung, apalagi jika menyangkut perdamaian.

"Kita tidak sekedar ikut. Konsep Islam ini bahwa setiap ada yang namanya kebaikan patut untuk kita dukung. Apalagi kalau perdamaian. Walaupun kita menduga, kita kan enggak bisa memastikan, siapa yang bisa memastikan sekarang ini? Kan tidak ada, hanya Allah yang tahu," tuturnya.

Ia juga mengutip pesan tawakal kepada Allah, seraya menegaskan bahwa Islam adalah agama damai. Meski demikian, umat Islam tidak boleh lugu dan bodoh, tetapi harus realistis.

Zaitun Rasmin juga menyoroti mengapa umumnya negara-negara Islam menerima dinamika tersebut, karena dinilai sebagai pilihan paling realistis. Yang terpenting, kata dia, tanyakan kepada saudara-saudara di Gaza.

"Sampai saat ini tidak ada reaksi keras dari Gaza menolak. Tidak ada. Saya berkomunikasi dengan mereka bahwa bagi mereka tidak terlalu penting hal-hal yang sifatnya bunga-bunga ini. Mereka menunggu apa substansinya nanti," ungkapnya.

Ia menambahkan, boleh jadi ada kepentingan dari pihak Amerika atau Donald Trump, tetapi itu bukan masalah jika pada akhirnya bisa menghentikan genosida, mengantarkan kemerdekaan Palestina, dan juga menyoroti peran PBB yang dinilainya belum berpihak.

"Kira-kira apa yang telah dibuat PBB buat Palestina sampai saat ini?" pungkasnya.

Sebelumnya, Zaitun Rasmin juga merespons desakan sejumlah pihak agar Indonesia keluar dari keanggotaan Board of Peace (BoP) direspons. Ia mengatakan desakan itu perlu disikapi dengan objektif, karena serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran sudah terjadi sebelum adanya BoP.

“Kalau mengaitkan dengan BoP, ya rasa-rasanya kita perlu objektif. Sebab, serangan Zionis dan Amerika ke Iran itu sudah terjadi sebelum ada BoP,” katanya, dalam sebuah unggahan di akun pribadi Instagramnya, @zaitunrasmin_official, Selasa, 3 Maret 2026.

Menurut dia, BoP belum lama berdiri. Ia justru mempertanyakan bila Indonesia keluar dari BoP, apa yang akan dilakukan pemerintah untuk dapat membantu warga Gaza di Palestina keluar dari penjajahan Israel.

“Bagi saya, kalau pemerintah kita keluar dari BoP, kira-kira apa yang bisa dilakukan oleh pemerintah kita untuk benar-benar membantu saudara kita di Gaza, Palestina? Bukankah ini masih ada peluang, apalagi mereka diberi kesempatan untuk membicarakan perdamaian di Gaza dan kemerdekaan di Palestina,” katanya.

Ketua Umum Wahdah Islamiyah itu menyebut bahwa BoP menjadi wadah yang saat ini paling mungkin untuk membicarakan tentang perdamaian di Gaza dan kemerdekaan Palestina.  

“Kalau orang berbicara bahwa itu kemungkinannya kecil (untuk) berhasil. Itu namanya teori kemungkinan. Bisa juga berhasil. Maka, biarlah pemerintah kita bersama 7 negara Islam lainnya, bahkan sudah bertambah jadi beberapa negara Islam, melakukan tugas itu. Dan tugas kita untuk terus berjuang secara maksimal,” paparnya.

Menurutnya, Indonesia tidak boleh berhenti bersuara sampai Palestina merdeka dan Genosida terhenti. Hal itu, kata dia, merupakan tanggung jawab moral yang diamanatkan UUD 1945.

Zaitun Rasmin pun mengajak para tokoh yang menginginkan Indonesia keluar dari BoP untuk menggunakan hati nurani dan berpikir jernih. Menurutnya, penting untuk berusaha objektif dalam menilai.

“Dan di sinilah pentingnya berbagi tugas. Biarlah pemerintah dengan tugasnya. Dan kita dengan tugas kita pula. Ini poin penting. Jadi agar kita tidak mudah terjatuh pada kesalahan menilai. Apalagi nanti menyebabkan perpecahan di antara kita,” kata dia.

“Maka mari selalu menggunakan hati nurani, pikiran jernih dan selalu berusaha objektif dalam menilai,” imbuhnya. 

Zaitun Rasmin pun mengingatkan juga jejak sejarah bangsa Indonesia yang selalu membela kemerdekaan Palestina. Negara-negara Islam yang terlibat di dalam BoP pun punya sejarah panjang dalam membela kemerdekaan Palestina.

“Kalau kita hanya menilai yang sekarang. Kita bisa keliru. Ini sejarah panjang. Kata Bung Karno, 'jasmerah'. Jangan lupakan sejarah. Maka supaya kita bisa tetap tidak terprovokasi,” pungkasnya. rmol news logo article
EDITOR: RENI ERINA

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA