Pemerintah Harus Jamin Pasokan Bahan Bakar Jelang Arus Mudik

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/ahmad-alfian-1'>AHMAD ALFIAN</a>
LAPORAN: AHMAD ALFIAN
  • Selasa, 03 Maret 2026, 14:30 WIB
Pemerintah Harus Jamin Pasokan Bahan Bakar Jelang Arus Mudik
Situasi di Terminal Kampung Rambutan, Jakarta Timur. (Foto: Dokumentasi RMOL)
rmol news logo Bayang-bayang kelangkaan bahan bakar menghantui kesiapan arus mudik Lebaran Idulfitri menyusul pengakuan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia bahwa cadangan energi nasional saat ini hanya mampu bertahan selama 20 hari.

Anggota Komisi XII DPR RI, Ratna Juwita Sari, menegaskan bahwa pernyataan tersebut adalah "alarm keras" yang tidak boleh dipandang sebelah mata. Mengingat mobilitas masyarakat akan mencapai puncaknya dalam waktu dekat, ketahanan stok dan kelancaran distribusi BBM menjadi harga mati yang tidak bisa ditawar.

“Jangan sampai secara nasional terlihat aman, tetapi di lapangan terjadi kelangkaan karena distribusi tidak optimal. Mudik akan mendongkrak konsumsi BBM secara signifikan, pemerintah harus menjamin tidak ada kendala pasokan,” tegas Ratna di Jakarta, Selasa, 3 Maret 2026.

Politisi Fraksi PKB ini menyoroti risiko lonjakan permintaan pada komoditas vital seperti BBM, LPG, hingga avtur. Menurutnya, tanpa antisipasi matang, ketimpangan antara stok pusat dan ketersediaan di daerah dapat memicu keresahan sosial, mulai dari antrean panjang di SPBU hingga kelangkaan gas melon.

Ratna mengingatkan bahwa gangguan pada sektor ini akan memberikan efek domino yang merusak stabilitas ekonomi nasional.

“Ketahanan energi adalah bagian dari ketahanan nasional. Momentum mudik tidak boleh terganggu hanya karena persoalan pasokan. Pemerintah harus hadir memberi kepastian dan rasa aman,” imbuhnya.

Data dari Reformasi Syndicate mempertegas urgensi peringatan tersebut. Saat ini, kebutuhan BBM nasional mencapai 1,5 hingga 1,6 juta barel per hari. Angka ini berbanding terbalik dengan realitas produksi minyak mentah dalam negeri yang hanya menyentuh kisaran 500.000 hingga 600.000 barel per hari.

Defisit yang mencapai lebih dari satu juta barel per hari ini membuat posisi Indonesia sangat bergantung pada impor dan ketersediaan cadangan strategis. 

Ratna pun menuntut transparansi pemerintah dalam mengelola sisa cadangan 20 hari tersebut agar tidak menjadi sekadar peringatan tanpa tindak lanjut.

“Kami membutuhkan langkah cepat, terukur, dan transparan. Ini bukan sekadar persoalan teknis, tapi menyangkut hajat hidup orang banyak,” pungkasnya. rmol news logo article
EDITOR: AHMAD ALFIAN
Konten iklan di bawah berasal dari platform DISQUS, tidak terkait dengan pembuatan konten ini

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA