Menurut Anggota Komisi VIII DPR RI, Lisda Hendrajoni, integrasi peran perempuan dan perlindungan anak dalam skema MBG dinilai menjadi solusi konkret untuk mendorong kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh.
"Dalam pelaksanaan proyek MBG, perempuan memegang peranan krusial, mulai dari tahap perencanaan menu, pengelolaan dapur komunitas, hingga penyediaan bahan baku. Keterlibatan ini membuka akses lapangan kerja baru dan peluang wirausaha bagi ibu rumah tangga serta kelompok perempuan lokal," ungkap Lisda dalam keterangannya, Kamis, 13 Agustus 2026.
Dapur-dapur produksi MBG, tambahnya, melibatkan kelompok usaha perempuan dan koperasi lokal dalam menyuplai komoditas pangan berdampak pada Penguatan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
“Pendapatan tambahan yang diperoleh perempuan berdampak langsung pada peningkatan daya beli keluarga serta akses pendidikan dan kesehatan anak. Juga menciptakan kemandirian finansial keluarga," ujar Lisda.
Legislator NasDem dari Dapil Sumbar I itu juga mengatakan, program pelatihan kebersihan pangan, tata kelola bisnis skala kecil, dan standar gizi memberikan peningkatan kapasitas keterampilan jangka panjang bagi para pekerja perempuan.
"Kami melihat proyek MBG bukan sebatas pembagian makanan, melainkan intervensi ganda. Di satu sisi, kita mengamankan hak tumbuh kembang anak secara maksimal, dan di sisi lain, kita membendung ketimpangan gender dengan membuka akses ekonomi formal bagi perempuan di tingkat akar rumput," kata Lisda.
Lisda yang sudah dua periode duduk di kursi Senayan, mengatakan keberhasilan serta akuntabilitas program MBG di lapangan mendapat perhatian serius dari kalangan legislatif. Sinergi antara perlindungan anak dan jaminan sosial keluarga menjadi aspek kunci yang perlu terus dikawal.
"Program Makan Bergizi Gratis ini menyentuh dua isu utama yang menjadi perhatian kami di DPR RI, yaitu kesejahteraan keluarga dan perlindungan anak," ujar Lisda.
DPR RI akan memastikan bahwa pelaksanaan MBG tidak hanya tepat sasaran secara gizi, tetapi benar-benar melibatkan kelompok perempuan lokal dalam rantai pasoknya.
"Ketika ibu-ibu di daerah diberdayakan sebagai pengelola dan penyedia bahan pangan, kesejahteraan rumah tangga ikut terangkat, dan perlindungan terhadap tumbuh kembang anak dapat terjamin secara berkelanjutan," tandasnya.
BERITA TERKAIT: