Pengamat intelijen dan geopolitik Amir Hamzah menilai, konflik terbuka antara ketiga aktor tersebut berpotensi menyeret dunia ke pusaran konflik global yang lebih luas.
Amir melihat dinamika yang terjadi tidak lagi sekadar konflik regional, melainkan sudah menyentuh konfigurasi kekuatan besar dunia.
“Iran bukan aktor tunggal. Di belakangnya ada kepentingan strategis Rusia dan China. Jika eskalasi tak terkendali, maka risiko konflik global terbuka sangat nyata,” kata Amir dalam keterangannya, dikutip Minggu 1 Maret 2026.
Dalam analisisnya, Amir menjelaskan bahwa perang modern tidak selalu melibatkan konfrontasi langsung antarnegara besar. Sebaliknya, pola yang lebih mungkin terjadi adalah
proxy war atau perang perwakilan.
Menurut Amir, Iran memiliki jaringan kelompok sekutu di kawasan, seperti kelompok Houthi di Yaman dan Hizbullah di Lebanon Selatan.
Jika konflik meningkat, kedua aktor ini berpotensi menyerang kepentingan Israel maupun pangkalan militer AS di kawasan Teluk.
BERITA TERKAIT: