Saat ini Indonesia menyiapkan langkah untuk memperkuat posisinya sebagai jangkar investasi global melalui penyelenggaraan Indonesia Economic Summit (IES) yang digagas Indonesian Business Council (IBC) pada 3-4 Februari 2026.
ES 2026 akan mempertemukan lebih dari 100 investor global dengan pemangku kepentingan strategis Indonesia. Ajang ini ditargetkan menjadi ajang pertemuan strategis antara investor dunia dan para pengambil kebijakan di Tanah Air.
“Keadaan
uncertainty di dunia ini, dan juga dengan adanya perebutan modal membuat kita harus memikirkan bagaimana
making Indonesia an anchor for global investment,” kata Ketua Dewan Pengawas IBC Arsjad Rasjid, Jumat, 30 Januari 2026.
Arsjad mengatakan, diperlukan strategi komprehensif dalam mengatasi berbagai kendala struktural yang selama ini membatasi pertumbuhan ekonomi agar Indonesia menjadi pusat kepercayaan investor global.
“Ini termasuk strategi untuk mengatasi kendala struktural yang membatasi pertumbuhan,” jelasnya.
Arah tujuan ini sejalan dengan pidato Presiden Prabowo di World Economic Forum yang menekankan konsep 3C, yakni
certainty, capability, dan
capital.
“Kalau kita bicara
certainty, itu kita bicara mengenai bagaimana kepastian hukum, karena investasi akan datang bila ada kepastian hukum,” kata Arsjad.
Senada, Chief Executive Officer IBC, Sofyan Djalil mengatakan strategi pertumbuhan ekonomi tidak bisa hanya bertumpu pada investasi negara, terlebih di tengah dinamika global yang semakin volatil dan percepatan teknologi yang sangat cepat.
“Oleh sebab itu pertumbuhan ekonomi tentu tidak cukup kita mengarahkan kepada investasi negara. Kalau kita tidak meningkatkan produktivitas, maka pertumbuhan ekonomi akan menjadi tantangan. Karena kunci sebuah kemajuan bangsa adalah produktivitas,” jelas Sofyan.
BERITA TERKAIT: