Ketua Badan Anggaran DPR RI Said Abdullah mengatakan, ekonomi domestik saat ini masih belum cemerlang, lantaran terjadi penurunan daya beli masyarakat.
“Di dalam negeri, kita menghadapi situasi ekonomi yang tidak mudah, seperti penurunan daya beli, serta kondisi pasar saham dan keuangan yang sangat
volatile,” kata Said kepada wartawan, Jumat 4 April 2025.
Said menyarankan pemerintah untuk mengambil langkah inisiatif, salah satunya mendorong The World Trade Organization (WTO) agar menyehatkan perdagangan internasional agar lebih adil, dan menopang pertumbuhan ekonomi global secara berkelanjutan.
“Kita tidak menginginkan hanya untuk kepentingan adidaya, lalu kepentingan masyarakat global untuk mendapatkan kesejahteraan diabaikan,” kata Said.
Menurutnya, Indonesia perlu menyuarakan negara-negara lain untuk menghentikan perang dagang yang diskriminatif dan mengedepankan perdagangan yang transparan.
“Indonesia perlu mengajak dunia pada tujuan dibentuknya WTO untuk prinsip perdagangan non diskriminasi, membangun kapasitas perdagangan internasional, transparan, dan perdagangan bebas, serta sebagai forum penyelesain sengketa perdagangan internasional,” tutup Said.
Indonesia masuk dalam daftar 10 besar yang terkena imbas tarif timbal balik tersebut sebagai dampak dari perang dagang di AS yang berkontribusi terhadap defisit perdagangan AS.
Nilai impor AS dari Indonesia dinilai lebih tinggi 18 miliar dolar AS dibanding sebaliknya. AS mengenakan tarif baru bagi Indonesia sebesar 32 persen.
Ekspor utama Indonesia ke AS, antara lain tekstil dan rajutan (termasuk jersey), sepatu, minyak sawit, udang dan ikan, serta peralatan elektrik.
BERITA TERKAIT: