“Aktivitas dan mobilitas masyarakat berangsur-angsur terus meningkat, tercermin dari inflasi kelompok transportasi sebesar 0,33% (month to month/MtM) dan memberikan andil sebesar 0,04%, yang utamanya disumbang oleh kenaikan tarif angkutan udara dengan andil 0,03 pesen," kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto dalam keterangannya, Rabu (3/11).
Airlangga menjelaskan, Komponen Harga Bergejolak (Volatile Food/VF) kembali mengalami inflasi sebesar 0,07 persen (MtM), dan 3,16 persen (yoy), setelah selama dua bulan sebelumnya mengalami deflasi yang disebabkan penurunan harga beberapa komoditas hortikultura.
Namun kenaikan komoditas hortikultura, seperti aneka cabai, seperti yang terjadi pada Oktober perlu diwaspadai. Mengingat saat ini telah masuk musim penghujan yang biasanya dapat mengurangi produktivitas tanaman hortikultura.
"Komoditas pangan lainnya yang mengalami kenaikan harga dan memberikan andil inflasi yakni minyak goreng (0,05 persen) dan daging ayam ras (0,02 persen). Sementara beberapa komoditas VF yang mengalami penurunan harga dan menyumbang deflasi yakni telur ayam ras (-0,03 persen), tomat (-0,02 persen), bawang merah, sawi hijau, bayam, kangkung (andil masing-masing sebesar -0,01 persen)," kata Airlangga.
Perbaikan permintaan domestik tersebut tercermin dari Purchasing Managers Index (PMI) yang dilaporkan berada pada posisi ekspansif di level 57,2. Nilai tersebut juga naik dari posisi bulan sebelumnya yang berada pada posisi 52,2.
Membaiknya level PMI Oktober 2021 sejalan dengan berlanjutnya penurunan kasus Covid-19 yang stabil. Peningkatan efektivitas pengendalian pandemi dan berlanjutnya berbagai Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) diperkirakan mampu menjaga momentum peningkatan aggregate demand masyarakat, sehingga menjadi insentif dalam mengakselerasi output di sektor manufaktur.
“Ke depan, pemerintah meyakini target inflasi sampai akhir 2021 akan tetap bisa dijaga dalam rentang sasaran," tandasnya.
BERITA TERKAIT: