Tingkat partisipasi pemilih ini lah yang akan didongkrak oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) untuk penyelenggaraan Pemilu di 2024.
Pasalnya, tren partisipasi pemilih dalam pemilu mengalami perubahan yang fluktuatif. Misalnya pada Pemilu 1999 angka partisipasi pemilih cukup tinggi mencapai 92,6 persen, namun turun pada Pemilu 2004 (pileg 84,1 persen, pilpres putaran pertama 78,2 persen, putaran kedua 76,6 persen).
"Baru kembali naik pada Pemilu 2009. Pileg 70,9 persen, pilpres 1,7 persen. Namun turun untuk pilpres pada Pemilu 2014 di mana legislatif 72 persen, pilpres 69,58 persen. Dan terakhir pada Pemilu Serentak 2019 angka partisipasi kembali meningkat mencapai 81,93 persen," papar Komisioner KPU, I Dewa Kade Wiarsa Raka Sandi dalam jumpa pers virtual, Jumat (20/8).
Hal yang sama, lanjut Raka Sandi, juga terjadi untuk Pemilihan Kepala Daerah. Di mana pada Pemilihan 2015 partisipasi mencapai 69,06 persen, naik pada Pemilihan 2017 mencapai 74,2 persen, namun turun pada Pemilihan 2018 mencapai 73,24 persen dan kembali naik pada Pemilihan 2020 mencapai 76,09 persen.
"KPU memandang tren naik dan turunnya partisipasi pemilih tersebut sebagai sebuah tantangan yang harus diperhatikan," imbuhnya.
Oleh karena itu, Raka Sandi menyatakan bahwa dalam penyelenggaraan pemilu maupun
pemilihan, program-program inovatif selalu digulirkan KPU, guna memastikan kepedulian masyarakat pemilih tetap terjaga pada setiap proses-proses demokrasi disekitarnya.
Untuk menghadapi Pemilu dan Pemilihan Serentak 2024, Raka menyebut KPU memformulasikan program baru untuk meningkatkan partisipasi pemilih, yaitu program Desa Peduli Pemilu dan Pemilihan.
"Melalui program ini diharapkan kesadaran masyarakat untuk terlibat dalam proses pemilu maupun pemilihan tumbuh dan
berkembang mulai dari desa/kelurahan/kampung atau sebutan lainnya," ucapnya.
Lebih lanjut, Raka Sandi berharap melalui program Desa Peduli Pemilu dan Pemilihan diharapkan tumbuh kader-kader perubahan yang dapat memperluas makna partisipasi dalam pemilu.
Tidak hanya kuantitas (angka), tapi Raka Sandi juga berharap kualitas pemahaman hingga
tindakan pemilih bisa meningkat. Sebab dengan semakin baiknya pemahaman dan pengetahuan masyarakat akan pentingnya proses demokrasi pemilu dan pemilihan, diharapkan lahir pemilih cerdas, kritis.
"Yang tidak mudah terjebak oleh praktek politik uang, hoaks, kampanye SARA atau juga konflik dan kekerasan," demikian Raka Sandi.
BERITA TERKAIT: