Masyarakat Makin Bosan Di Rumah Karena Pemerintah Tidak Serius Dan Terlalu Banyak Kompromi

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/jamaludin-akmal-1'>JAMALUDIN AKMAL</a>
LAPORAN: JAMALUDIN AKMAL
  • Jumat, 15 Mei 2020, 16:52 WIB
Masyarakat Makin Bosan Di Rumah Karena Pemerintah Tidak Serius Dan Terlalu Banyak Kompromi
Ilustrasi/Net
RMOL. Pemerintahan Joko Widodo dinilai tidak serius dalam mengatasi pandemik Covid-19 hingga mengakibatkan masyarakat cenderung menilai sudah tidak berguna lagi hanya berdiam di rumah.

Analisis politik Universitas Islam Indonesia (UII), Geradi Yudhistira mengatakan, secara psikologis masyarakat semakin bosan lantaran pemerintah tidak memahami masyarakatnya sendiri.

Masyarakat Indonesia, kata Geradi, cukup antusias mengikuti aturan dari pemerintah untuk tetap berada di dalam rumah hingga satu bulan lamanya seperti yang sudah terjadi saat ini.

"Saya kira masyarakat cukup antusias untuk mengikuti saran lockdown, dan jika pada saat itu pemerintah melaksanakan lockdown dengan ketat, maka saya pikir hasilnya akan jauh lebih berbeda dan jauh lebih efektif daripada hari ini," kata Geradi.

Faktanya, masyarakat hanya disuruh diam di rumah, dan pemerintah sendiri sudah mulai berkoar-koar soal skenario pencabutan atau relaksasi kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

"Saya kira masyarakat makin bingung. Di satu sisi ini kapan selesainya dan di sisi itu masyarakat sudah merasa bahwa tidak ada gunanya lagi berada di dalam rumah, karena tidak ada keseriusan dan tidak ada titik jelasnya. Kalau dari awal keras, satu bulan misalnya, kita keras seperti Malaysia, maka kecenderungannya angka itu akan cepat menurun, tapi ini tidak," tegas Geradi.

Ditambahkan Geradi, terlalu banyak kompromi yang dilakukan pemerintah. Masyarakat di satu tempat harus di rumah, sementara masyarakat di tempat lain boleh ke luar dengan mengikuti sejumlah syarat. Hal ini tidak akan membuat kurva menjadi landai dan sekarang masyarakat sudah capek. Masyarakat sudah bosan berada di rumah terus.

"Di sisi lain mereka merasa dibohongi karena ternyata di luar sudah ramai, di jalanan sudah ramai, dan segala macam. Saya pikir bukan tidak mungkin akan terjadi gelombang wabah kedua nanti ketika angkanya terus menerus naik," pungkasnya. rmol news logo article

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA