Fokus Manufaktur, Menteri Perindustrian Prioritaskan Investasi Masuk

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/faisal-aristama-1'>FAISAL ARISTAMA</a>
LAPORAN: FAISAL ARISTAMA
  • Senin, 18 November 2019, 09:42 WIB
Fokus Manufaktur, Menteri Perindustrian Prioritaskan Investasi Masuk
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang/Net
rmol news logo Untuk mengimplementasikan peta jalan Making Indonesia 4.0, pemerintah bakal memprioritaskan program menarik investasi dari perusahaan-perusahaan skala global. Sebab, hal itu diyakin dapat mendongkrak kapasitas produksi sekaligus memperkuat struktur manufaktur nasional.

"Kami pun mendorong agar para investor tersebut dapat menjalin mitra dengan industri di dalam negeri, termasuk industri kecil dan menengah (IKM). Upaya strategis ini diharapkan akan terjadi transfer teknologi terutama bagi investor yang telah mengadopsi industri 4.0," ujar Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dalam keterangannya di Jakarta, Senin (18/11).

Agus mengatakan, hal tersebut sesuai arahan Presiden Joko Widodo yang memberikan perhatian serius terhadap sektor manufaktur. Sebab, aktivitas industrialisasi dinilai dapat membawa efek ganda terhadap perekonomian nasional.

"Sesuai arahan Presiden, seluruh kementerian termasuk Kementerian Perindustrian, agar dapat menyederhanakan aturan-aturan yang bisa memudahkan investasi masuk sehingga industri kita bisa tumbuh berkembang dan berdaya saing global," kata Agus.

Ia menambahkan, selain menarik investasi sektor industri padat karya, pemerintah juga dipastikan bakal menggenjot pertumbuhan di sektor industri yang berorientasi ekspor dan menghasilkan produk substitusi impor.

"Ini sejalan dengan tekad pemerintah untuk menciptakan lapangan kerja lebih banyak lagi dan mengurangi defisit neraca perdagangan," tegasnya.

Kemenperin mencatat, pada periode Januari-September 2019, penanaman modal dalam negeri (PMDN) dari sektor industri manufaktur mencapai Rp52,8 triliun yang terdiri dari 5.133 proyek. Sedangkan, untuk penanaman modal asing (PMA) dari sektor industri manufaktur sebesar USD6,3 miliar yang meliputi sebanyak 7.210 proyek.

Adapun tiga penyumbang terbesar bagi PMDN sektor manufaktur di periode tersebut, yakni industri makanan dengan nilai investasi hingga Rp26,4 triliun (1.649 proyek), kemudian disusul industri logam, mesin dan elektronik serta industri instrumen kedokteran, presisi, optik dan jam yang menyentuh angka Rp7,6 triliun (656 proyek). Berikutnya, industri kimia dan farmasi mencapai Rp6,8 triliun (678 proyek).

Sementara itu, tiga kontributor besar untuk PMA di periode yang sama, yaitu industri logam, mesin dan elektronik serta industri instrumen kedokteran, presisi, optik dan jam yang menggelontorkan dananya hingga USD2,3 miliar (1.520 proyek), kemudian diikuti industri kimia dan farmasi mencapai USD1 miliar (940 proyek). Berikutnya, industri makanan sebesar USD1 miliar (1.359 proyek).

Atas dasar itulah, Menperin optimistis, Indonesia masih menjadi negara tujuan utama investasi khususnya bagi sektor industri manufaktur. Potensi tersebut sejurus dengan dukungan atas ketersediaan pasar yang besar dan bahan baku yang cukup melimpah.

"Sejumlah investor skala global telah menyatakan minatnya untuk menjadikan Indonesia sebagai basis produksi mereka guna memenuhi kebutuhan di pasar domestik hingga ekspor," demikian Agus. rmol news logo article

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA