Hal ini diungkapkan Direktur Lembaga Pemilih Indonesia (LPI) Boni Hargens terkait insiden penusukan terhadap Menko Polhukam Wiranto di Pandeglang, Banteng, Kamis lalu (10/10).
"Saya lebih peduli mengkritisi peran partai politik dalam melawan terorisme ketimbang melihat tragedi yang menimpa Pak Wiranto ini dari aspek keamanan murni," kata Boni Hargens kepada wartawan, di Jakarta, Sabtu (12/10).
Boni menambahkan, partai-partai yang masih mengandalkan simbol agama sebagai alat mobilisasi politik mesti didorong untuk memiliki komitmen yang lebih besar dalam melawan terorisme. Sebab, ia melihat selama ini hanya beberapa partai yang konsisten dan tegas melawan terorisme seperti PDIP, PKB, termasuk Golkar.
"Partai lain harus lebih serius. Bagaimana caranya? Mulai dari rekrutmen calon kepala daerah atau calon wakil rakyat, harus ada screening ideologi supaya yang terpapar radikalisme tidak ikut masuk menguasai ruang kekuasaan," ucap Boni.
Ia mencontohkan bagaimana di jaman pemerintahan Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyonono (SBY), melalui kritisi fakta bahwa banyak kader radikal yang dibiarkan masuk Pemda, DPRD, BUMN, birokrasi, dan lembaga negara lainnya.
"Apa yang terjadi sekarang adalah konsekuensi dari keteledoran di masa lalu," pungkasnya.
BERITA TERKAIT: