Pemilu 2019 Belum Mencerminkan Pesta Sebenarnya

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/'></a>
LAPORAN:
  • Selasa, 09 April 2019, 21:38 WIB
Pemilu 2019 Belum Mencerminkan Pesta Sebenarnya
Pemilu 2019/Net
rmol news logo . Pemilu adalah pesta rakyat, tapi proses Pemilu 2019 saat ini belum mencerminkan pesta yang sebenarnya.

Demikian disampaikan pengamat politik senior LIPI, Indria Samego pada diskusi publik bertajuk "Prediksi Dinamika Pemilu Serentak 2019 dalam Perspektif Sosial Politik dan Keamanan" di kawasan Raden Saleh, Jakarta Pusat, Selasa (9/4).

Menurutnya, kondisi sosial masyarakat dan ruang publik sekarang ini disuguhi hal-hal negatif seperti hoax, ujaran kebencian, intimidasi dan teror psikologis yang dapat mengancam pelaksanaan pesta demokrasi.

"Kemarin kita misalnya mendengar calon presiden menggebrak-gebrak meja, itu emosi sesaat. Cuma penafsiran publik bisa bermacam-macam. Apalagi dengan adanya media sosial yang memberikan kesempatan kita menilai," ujar Indria.

Selain itu, Indria juga menyinggung pernyataan Amien Rais yang mengatakan akan menggerakkan people power jika ada kucurangan pada Pilpres ini, dan pernyataan "perang total" sebagaimana disampaikan oleh Moeldoko.

"Saya melihat ini sangat mempengaruhi rasa aman masyarakat. Harapan kita dari Pemilu ke Pemilu demokrasi naik kelas," katanya.

Hal yang sama juga disampaikan Direktur Indonesian Public Institute, Karyono Wibowo. Menurut dia, Pemilu 2019 masih banyak menyisakan masalah. Dia mengatakan ada ribuan pelanggaran Pemilu yang dilaporkan ke Bawaslu.

Disebutkan Karyono, hoax juga cukup meningkat. Dia mengutip data dari Kominfo. Disebutkan, bahwa ada 771 konten hoax dan dari 771 itu ada 181 konten hoax yang terkait dengan hoaks politik. Karyono juga mengutip data PoliticaWafe dan Masyarakat Anti Fitnah (MAFINDO). Menurutnya, kalau dilihat dari trannya, hoaks tidak akan berhenti sampai pada Pemilu 2019 ini.

"Apalagi saya melihat gejala hoaks sudah menjadi industri," jelas Karyono.

Sementara itu di tempat yang sama, pengamat intelijen dan keamanan, Stanislaus Riyanta mengatakan, jika perolehan suara Pilpres secara nasional rendah dan tipis, maka hal itu akan menjadi pintu masuk untuk membuat kegaduhan pihak-pihak tertentu.

Namun demikian, Stanislaus yakin ancaman Pemilu dapat diatasi. Karena, dia sudah melihat kesiapan TNI, Polri dan BIN dalam pengamanan pesta demokrasi lima tahunan ini.

"Kekuatan ini cukup untuk mengamankan pemilu. Jadi tak perlu takut. Cegah golput, tingkatkan partisipasi dan perlu ketegasan dari penyelenggara Pemilu untuk menjalankan aturan," tutupnya. rmol news logo article

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA