Pengamat pertahanan siber, Pratama Peradha menegaskan, penilaian itu dilandaskan pada belum terlihatnya gagasan inovatif dari kedua capres terkait keamanan dan pertahanan siber.
"Yang dibahas hanya soal unicorn dan lain-lain. Itu mah gampang," ungkapnya dalam diskusi bertajuk "Debat Keempat, Isu Khilafah, Pancasila, dan Proxi War," di Jalan Wahid Hasyim, Jakarta Pusat, Sabtu (30/3).
Padahal, lanjutnya, ada masalah yang lebih besar ketimbang isu-isu unicorn dan lain-lain itu, yakni pertahanan siber nasional.
Pasalnya, pertahanan siber di negeri ini sangatlah rentan, dan bisa menghancurkan Indonesia sebagai bangsa.
"Kalau bom nuklir dijatuhkan ke Jakarta mungkin yang hancur hanya Jakarta, Depok, Bogor dan sekitarnya saja. Tapi, kalau diserang siber, semua jaringan komunikasi dan siber seluruh Indonesia bisa mati. Ini yang belum diantisipasi," pungkas Pratama Peradha.
BERITA TERKAIT: