Sebab, berdasarkan data dari Badan PBB yang mengurusi masalah Perdagangan dan Pembangunan (UNCTAD), ada penanaman modal asing (foreign direct investment) yang mengalir ke kawasan Asia Tenggara hingga mencapai 18 persen atau 73 miliar dolar AS pada semester pertama tahun 2018 dibanding dari tahun lalu.
Namun, meski berada di Asia Tenggara, Indonesia bukan bagian dari negara yang beruntung dalam kondisi perang dagang tersebut.
Berdasarkan laporan dari Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), secara keseluruhan total investasi pada kuartal III-2018 turun 1,6 persen dibandingkan pada kuartal III-2017. Total investasi menjadi Rp 173,8 triliun di kuartal III-2018.
Dari jumlah tersebut porsi penanaman modal asing (FDI) tercatat sebesar Rp 89,1 triliun atau turun 20,2 persen dibandingkan pada periode yang sama tahun 2017 yang tercatat sebesar Rp 111,7 triliun.
Ekonom senior, DR Rizal Ramli menjelaskan bahwa dalam perang dagang ini, ada perubahan kebijakan dari negara-negara maju di Asia Timur, seperti Jepang, Korea, dan Taiwan.
Mereka mencari investasi baru di negara-negara yang berada di selatan. Kebijakan ini disebut Menko Perekonomian era Presiden Abdurrahman Wahid itu sebagai “Looking Southâ€.
“Negara-negara di utara Asia laksanakan kebijakan investasi
‘Looking South’,†jelasnya dalam akun Twitter
@RamliRizal, Rabu (31/10).
Menurutnya, ada negera yang paling siap dalam menghadapi pergeseran kebijakan tersebut, yaitu Vietnam. Sementara Indonesia, masih belum siap memanfaatkan momentum tersebut.
“Vietnam yang paling siap. Indonesia harusnya bisa memanfaatkan momentum pergeseran itu,†tukas mantan Menko Kemaritiman itu.
[ian]