Staquf Ke Israel, Pemerintah Gagal Pahami Amanah Pendiri Bangsa

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/widian-vebriyanto-1'>WIDIAN VEBRIYANTO</a>
LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO
  • Rabu, 13 Juni 2018, 08:44 WIB
Staquf Ke Israel, Pemerintah Gagal Pahami Amanah Pendiri Bangsa
Anton Digdoyo/Net
rmol news logo Kunjungan Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) RI Yahya Cholil Staquf ke Israel merupakan bentuk pengkhianatan terhadap Islam dan bangsa Indonesia.

Begitu kata pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Anton Digdoyo menanggapi langkah Staquf yang memenuhi undangan Israel untuk menjadi pembicara dalam acara AJC (American Jewish Committee) Global Forum di Yerusalem, Israel, Minggu (10/6) lalu.

Anton mengaku tidak terima dengan pernyataan Joko Widodo yang menilai kunjungan Staquf itu atas inisiasi pribadi. Dia menilai Staquf datang atas sepengetahuan presiden.

“Apalagi dia datang atas undangan The Israel Council on Foreign Relations (ICFR) forum yang mengkaji kebijakan luar negeri Israel, dengan bantuan WJC (World Jewish Congress/Kongres Yahudi Dunia),” ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi, Rabu (13/6).

Dia sangat yakin Jokowi pasti tahu rencana kunjungan tersebut. Sebab secara administrasi dan etika, anggota Wantimpres pasti akan memberitahu kepada presiden tentang kunjungan yang akan dilakukan.

“Itu artinya, presiden dan Yahya Staquf tidak peka terhadap sikap bangsa Indonesia, kondisi aktual Palestina, dan sikap bangsa-bangsa dunia yang mengutuk Israel,” sambungnya.

Pemerintah saat ini, sambungnya, juga gagal memahami amanah pendiri bangsa yang tercantum dalam Pembukaan UUU 1945 bahwa penjajahan di dunia harus dihapuskan.

“Gagal juga melihat manuver zionis, dimana tujuan diplomasi Israel adalag menggunakan Yahya Staquf untuk bangun opini dunia, ini loh wakil dari Wantimpres Indonesia saja sudah akui Israel dan Yerusalem sebagai ibukotanya,” sambung Anton.

“Bagi kaum muslim, langkah Staquf sangat menyakitkan ia telah khianati islam, bangsa Indonesia, bangsa-bangsa dunia yang anti penjajahan,” tukasnya. [ian]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA