Survei yang melibatkan 1200 responden digelar selama 25-31 Maret 2018. Para responden diwawancara dengan metode tatap muka. Margin of error kurang lebih 2,9 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen.
Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi, menjelaskan jajak pendapat yang dilakukannya menggunakan beberapa simulasi. Yaitu, simulasi semi terbuka capres, simulasi empat nama, simulasi tiga nama, dan simulasi dua nama.
Simulasi dua nama dilakukan dengan menyandingkan petahana Joko Widodo (Jokowi) dengan Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto.
"Di situ Pak Jokowi memperoleh 60,6 persen dan Pak Prabowo memperoleh 29 persen," kata Burhanuddin dalam konferensi pers di kantornya, kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Kamis (3/5).
Hasil survei juga menunjukkan 10,4 persen responden menjawab tidak tahu atau tidak memberi jawaban.
"
Head to head dua calon terkuat, jarak (Prabowo) kepada Jokowi sekitar 31 persen," tekannya.
Meski begitu, menurut dia masih ada waktu satu tahun ke depan bagi Prabowo untuk mengejar ketertinggalan elektabilitas dari Jokowi.
"Apalagi survei dilakukan sebelum Gerindra memberi mandat bagi Pak Prabowo untuk nyapres dan sebelum ribuan buruh memberikan dukungan untuk Pak Prabowo," ucapnya.
[ald]
BERITA TERKAIT: