Begitu kata Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP), M Romahurmuziy saat menjadi pembicara di Pesantren Al Hamid, Cilangkap, Jakarta Timur, Jumat (30/3).
Pernyataan Romi, sapaan akrab, Romahurmuziy ini mengisyaratkan pidato Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto yang mengatakan bahwa Indonesia bisa saja bubar pada tahun 2030 nanti.
Menurutnya tugas seorang pemimpin adalah menumbuhkan motivasi orang-orang yang dipimpin. Bukan demotivasi. Padahal seharusnya seorang pemimpin bangsa terus berupaya membangun optimisme.
Misalkan bahwa kesuksesan bangsa ini dibangun di atas keluarga-keluarga Indonesia, dan kesuksesan keluarga dibangun di atas kesuksesan pemuda Indonesia.
"Karena Indonesia adalah negara dengan mayoritas muslim, maka kesuksesan keluarga dibangun diatas kesuksesan pemuda muslim," ujarnya.
Romi juga menekankan bahwa seorang pemimpin bangsa harus memberikan panduan pada generasi penerus dalam meraih kesuksesan.
"Sukses apa sih yang diperlukan. Kalau berbicara secara Islam, sukses bukan hanya di dunia tetapi juga sukses di akhirat. Inilah yang tergambar dari Pancasila kita. Dimana hablum minallah ada di Sila Pertama dan hablum minannas tercermin di empat Sila lainnya," jelasnya.
Jika mengamalkan itu, menurut Romi, pemuda Indonesia bisa dikatakan sukses. Namun dia mengingatkan bahwa hubungan antara manusia dengan penciptanya dan manusia dengan manusia haruslah tetap seimbang. Sebab untuk menuju sukses dunia dan sukses akhirat, ada tiga langkah yang harus dilakukan.
"Yang pertama dengan ilmu agama dan ilmu dunia.Yang kedua adalah pemuda harus memiliki akhlak dam budi pekerti yang baik. Yang ketiga, untuk bisa menjadi sukses adalah bisa kerja keras," bebernya.
Ditegaskannya bahwa optimisme sangatlah penting, sebab diyakininya alam semesta pasti akan sangat mendukung. Konkretnya adalah seluruh komponen bangsa akan bahu-membahu untuk menjadikan bangsa ini produktif dan inovatif.
Lebih lanjut kata dia, kekuatan pertarungan antar bangsa terletak pada kekuatan pertarungan antar perusahaan. Kalau perusahaan yang ada kompetitif, maka negerinya juga demikian. Contohnya Amerika Serikat.
Negara itu sambung Romi besar bukan hanya karena anggran pendapatan negara yang 31 kali lipat dari Indonesia. Tetapi karena mereka punya perusahaan-perusahaan yang mendunia seperti Microsoft, Apple, Facebook, Google, Boeing dan sebagainya.
"Amerika Serikat besar karena perusahannya berkelas dunia. Hal itu bisa terjadi bila perusahaan berdaya saing. Indonesia harus bisa menumbuhkan inovasi dan kreativitas," demikian Romi.
[nes]
BERITA TERKAIT: