Ini lantaran Gerindra yang gagal dengan narasi utang negara, kini beralih menggunakan informasi dari negara asing untuk digunakan di mimbar umum terbuka.
"Mengapa tidak konsisten? Karena Prabowo sebagai ketua umum menggunakan informasi dari negara asing untuk membakar semangat kader Gerindra. Ya, padahal Gerindra sangat sering menggunakan narasi anti-asing," ujar Jurubicara PSI Rian Ernest dalam keterangan tertulisnya kepada redaksi, Rabu (21/3).
Rian menilai wacana yang dikembangkan Gerindra tidak masuk akal. Sebab selama ini Gerindra sangat anti asing, sementara di satu sisi mengakui validitas dan kredibilitas laporan negara asing tersebut.
"Inkonsistensi dalam berpolitik akan menurunkan kredibilitas partai, apalagi kita tahu bahwa sang ketua umum ingin maju di pilpres mendatang," sambungnya.
Rian mengatakan bahwa strategi politik Gerindra yang kerap membuat musuh yang sebenarnya “tidak ada†merupakan cara politik lama dan usang. Kata dia, seharusnya Gerindra memerangi korupsi, sentimen SARA, dan politisi yang menghalalkan segala cara yang menjadi musuh bangsa saat ini.
"Selayaknya Gerindra mengajukan diskursus kebijakan publik dan mengedukasi rakyat. Alih-alih pidato mencoba membakar semangat, namun tidak konsisten dengan jalan yang telah mereka pilih," tukasnya.
Prabowo dalam sebuah video pendek yang diunggah akun media sosial resmi Gerindra menyebut ada kajian-kajian dari negara lain bahwa Indonesia akan bubar pada 2030 mendatang.
"Kita masih pakai lambang-lambang negara, gambar-gambar pendiri bangsa masih ada di sini. Tetapi, di negara lain mereka sudah bikin kajian-kajian, di mana Republik Indonesia sudah dinyatakan tidak ada lagi tahun 2030," bunyi potongan video orasi Prabowo.
[ian]
BERITA TERKAIT: