Hal ini disampaikan Jokowi saat memberikan sambutan dalam acara pembagian 15 ribu sertipikat tanah untuk warga Kabupaten Bogor, di Lapangan Parkir Sirkuit Sentul, Bogor, kemarin. kut hadir dalam acara ini Kepala Staf Presiden Moeldoko dan Menteri Agraria dan Tata Ruang Sofyan Djalil.
Di awal pidatonya, Jokowi menceritakan, pemerintah sedang menargetkan pembagian sertipikat 7 juta bidang tanah. Target yang bukan main-main. Karena itu dia berjanji mencopot menteri dan jajarannya jika gagal mengejar target ini. Kata dia, sertipikat ini untuk menghindari adanya sengketa lahan yang kerap dikeluhkan warga dari ujung Sumatera hingga Papua.
Setelah itu, Jokowi menyampaikan keresahan terkait makin merebaknya hoaks dan segala variannya seperti fitnah dan ujaran kebencian. Ia berpesan kepada warga agar tak mudah percaya pada segala bentuk hoaks. Apalagi, tahun ini akan digelar pilkada serentak. Warga Kabupaten Bogor yang akan menghadapi Pilbup Bogor dan Pilgub Jabar juga diharapkan tak terpengaruh dengan hoaks, serta tidak saling menjelekkan dan mencela. Ia menitip pesan agar tetap rukun dan menjaga persaudaraan.
Jokowi kemudian mencontohkan salah satu hoaks yang tersebar di media sosial saat ini adalah tuduhan yang mengaitkannya dengan PKI. Ia menyebut tuduhan itu adalah bagian dari kejamnya politik di Indonesia. Karena jelas ini tuduhan ngawur. Ia lahir tahun 1961, sementara PKI dibubarkan tahun 1965. "(Saat PKI dibubarkan). Berarti saya baru umur 3-4 tahun, masa ada PKI balita, ya enggak? Lucu banget kan, itu yang memfitnah ngawur," kata Jokowi yang disambut tepuk tangan dan tawa hadirin.
Menghadapi isu ini, Jokowi kadang bingung harus bersikap bagaimana. Karena serba salah. "Saya kadang juga mau marah gimana, enggak marah juga gimana, serba salah," ungkapnya. Kalau marah, ia merasa kemarahannya gak produktif. Padahal dia bilang, pemerintah sedang fokus bekerja seperti membangun infrastruktur, membagikan sertipikat tanah dan sebagainya. Tapi kalau tidak marah khawatir banyak orang yang percaya dengan isu tersebut.
Usai acara, Jokowi menanggapi soal polisi yang sedang menangani kasus penyebaran hoaks yang dilakukan sindikat bernama
Muslim Cyber Army (MCA). Sindikat ini antara lain menggoreng isu kebangkitan PKI dan penganiayaan terhadap ulama. Terhadap kasus ini, Jokowi menginstruksikan Kapolri untuk menindak tegas siapa pun yang menyebarkan hoaks. Kata dia, jika dibiarkan, hoaks bisa menyebabkan perpecahan. "Saya sudah perintahkan ke Kapolri kalau ada pelanggaran tindak tegas. Jangan ragu-ragu. Entah motifnya, motif ekonomi, entah politik, tidak boleh seperti itu," tegasnya.
Jika diingat-ingat, tudingan Jokowi terkait dengan PKI memang sudah muncul sejak Jokowi nyapres di 2014. Isunya ramai di media sosial. Belakangan muncul dalam bentuk buku berjudul Jokowi Undecover bikinan Bambang Tri Multono. Buku ini menuduh bahwa orangtua Jokowi terkait PKI. Penulis buku ini kemudian divonis 3 tahun penjara. Isu lain yang muncul adalah Jokowi memberi angin kebangkitan PKI.
Suatu kali, dalam pertemuan dengan para pemred media massa di Istana, Jokowi terus terang mengaku jengkel dengan berbagai tuduhan tersebut. Saking kesalnya, Jokowi menegaskan, kalau PKI nongol akan digebuk saja. Di lain tempat, soal tuduhan bahwa orangtuanya terkait dengan PKI, Jokowi pun mempersilakan untuk mengecek silsilah keluarganya.
Menurut dia, di era keterbukaan informasi sekarang tak sulit rasanya untuk mengetahui tentang silsilah dan latar belakang keluarga seseorang. "Saya terbuka," kata Jokowi. klarifikasi ini disampaikan Jokowi berulang-ulang di pondok pesantren yang dikunjunginya. Jokowi mengatakan, sebenarnya malas ngomongin persoalan ini. Tapi kalau didiamkan isu ini malah makin berhembus kencang.
Isu kebangkitan PKI memang tak pernah padam. Diskusi demi diskusi digelar membahas persoalan ini. Ada kalangan yang menyebut isu kebangkitan PKI benar adanya. Mereka yang percaya adanya kebangkitan PKI antara lain adalah Mayjen (Purn) Kivlan Zein.
Sebagian lagi menyebut penyebaran isu ini hanya untuk kepentingan politik semata. Hal ini merujuk pada survei yang dilakukan SMRC yang dirilis September lalu. Hasil survei menunjukkan isu kebangkitan PKI sengaja diciptakan, dan tidak muncul secara alamiah.
Kemarin, kelompok yang menamakan diri Kaukus Muda Indonesia (KMI) menggelar diskusi bertema "Isu Kebangkitan PKI: Antara Realita dan Propaganda" di Hotel Grand Sahid, Jakarta. Hanya saja, diskusi ini berakhir ricuh. Kericuhan dimulai ketika pembawa acara mengatakan akan segera memulai pembacaan deklarasi 'Stop Eksploitasi Isu Kebangkitan PKI.' Sejumlah peserta diskusi pun kemudian segera melayangkan protes. Alasannya, tidak ada agenda deklarasi dalam undangan yang mereka terima. ***
BERITA TERKAIT: