"Maka tidak heran jika dari raut muka Lagarde terpancar mimik kepuasan dan kemudian memuji pemerintahan Jokowi setinggi langit. Karena pemerintah Indonesia dianggap masih setia pada jalur liberalisme," kata Ketua Perhimpunan Masyarakat Madani (Prima) Sya'roni kepada redaksi, Selasa (27/2).
Dikatakan dia, kenaikan BBM merupakan penyambutan terindah buat Lagarde tetapi kebijakan yang menyesakkan buat rakyat.
Kedua, Sya'roni menengarai, kedatangan Lagarde juga untuk memastikan bahwa Pemerintah Indonesia masih sanggup mengeluarkan uang hampir 1 triliun untuk menjamu "londo-londo milenial" dalam jamuan acara pertemuan World Bank dan IMF di Bali pada akhir tahun ini. Menurut dia, kedatangan Lagarde bisa dianggap simbol kedatangan VOC gaya baru yang siap mencaplok Indonesia.
"Apalagi saat ini Indonesia sedang kekeringam likuiditas dan sekaligus sudah terjerat utang yang menumpuk sehingga akan mudah disetir," kata Sya'roni.
Ketiga, yang paling dikhawatirkan Sya'roni, Lagarde ingin memaksakan kehendak agar Sri Mulyani yang dikenal sebagai antek neolib, menjadi cawapresnya Jokowi.
"Jika itu yang terjadi maka tuntas sudah liberalisasi di Indonesia dan selamat tinggal Tri Sakti dan Nawacita," demikian Sya'roni.
[dem]
BERITA TERKAIT: