Mereka mendesak Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk segera melakukan tindakan penyelamatan dan resolusi permanen terhadap krisis yang terjadi di Myanmar.
Meminjam istilah diplomasi global, AMPI melakukan "network diplomacy" dengan jaringan dan infrastruktur melalui konferensi regional-internasional antara lain dengan unsur pemuda di negara-negara ASEAN yaitu National Youth Council (Singapura), Pemuda UMNO (Malaysia), Patricia TAYO & Phillipine Center for Young Leaders in Governance (Filipina), Youth Movement of Cambodia National Rescue Party (Kamboja).
Bersama, mereka menghimpun kekuatan dan melakukan diplomasi pemuda di kawasan, demi bersama-sama mengambil tindakan cepat untuk membentuk dan menyepakati resolusi untuk menghentikan tragedi kemanusiaan yang sedang terjadi Myanmar.
Ketua Umum DPP AMPI, Dito Ariotedjo mengatakan bahwa dengan gerakan ini, pemuda di dunia telah menyatukan kekuatan bersama untuk berkomitmen, bersuara, beraksi, bersinergi dengan pemerintah di negara masing-masing.
"Ini nntuk mengambil tindakan dalam usaha penyelamatan dan pembentukan solusi yang tetap dan permanen terhadap saudara-saudara kita di Myanmar," imbuhnya dalam keterangan pers yang diterima wartawan, Senin (4/9).
Dito mengaku melihat peran pemuda dalam spirit utama "millennials nationalism" sangatlah besar dan penting dalam membangun kesadaran masyarakat agar mampu melihat isu pemberitaan, masalah dan solusi dari berbagai perspektif dan pandangan, hingga akhirnya berpartisipasi langsung dalam pembentukan resolusi ini.
Pemuda kata dia adalah kalangan yang suaranya dan tindakannya harus paling besar, paling lantang, dan tentu keaktifannya dalam membangun masyarakat yang sadar dan peduli dapat dimulai dari keaktifan pemuda untuk mulai bersuara. Pemuda adalah harapan, pendorong dan motivator utama penggerak masyarakat. Dan dalam hal ini, mempunyai potensi yang sangat besar untuk mengubah dan berbuat sesuatu.
"Kami di DPP AMPI, sadar adalah sebuah peran penting juga bagi kami untuk menyuarakan dan beraksi. Di AMPI, kami mempunyai infrastruktur dan system yang mendukung kami dalam melakukan aksi ini agar terlaksana secara berkesinambungan dan menyeluruh tidak hanya dalam ruang lingkup lokal saja, tetapi juga dapat mensinergikan hal ini ke dalam ruang lingkup regional dan global sehingga nantinya, dukungan terhadap langkah ini dapat lebih kuat dan merata," tambah Dito.
Apa yang dilakukan hari ini, lanjutnya, semua hanyalah permulaan langkah awal dalam membangun suatu kekuatan yang lebih besar lagi ke depannya. Pihak berharap, langkah yang dilakukan bersama ini dapat menjadi fondasi serta inspirasi bagi masyarakat, terutama generasi pemuda untuk melakukan hal yang sama.
"Tentu, tidak lain untuk tujuan yang sama yaitu untuk membangun dan menciptakan keamanan serta resolusi kemanusiaan di dunia khususnya di Myanmar," tandasnya.
Adapun beberapa kesepakatan dalam konferensi antar pemuda ASEAN tersebut, menyepakati beberapa poin untuk disuarakan dan ditindaklanjuti, antara lain:
Pertama, dibentuk lembaga pengawas dari PBB dan ASEAN untuk memitigasi dan meredakan konflik di Rohingya, dimana Indonesia menjadi pihak netral yang mewakili ASEAN dalam proses membina perdamaian yang berkelanjutan.
Kedua, memberlakukan sanksi keras kepada pemerintah Myanmar jika terus membiarkan aksi kekerasan bermotif genosida yang merupakan pelanggaran HAM berat sesuai Universal Declaration of Human Right PBB; berupa pemutusan hubungan diplomatic dan kerjasama.
Ketiga, menuntut Pemerintah Indonesia agar mendesak pemerintah Myanmar untuk mengakui hak status kewarganegaraan penduduk Rohingya sebagai warna negara sah.
Keempat, meningkatkan bantuan kemanusiaan, pendidikan dan ekonomi bagi penduduk Rohingya dengan mengikutsertakan secara gotong royong negara negara ASEAN dan khususnya mengikutsertakan Inggris. Dimana transmigrasi awal Rohingya ke Myanmar terjadi dalam proses pembangunan koloni kerajaaan Inggris Birma selama lebih dari 100 tahun.
[rus]
BERITA TERKAIT: