Untuk itu, sudah menjadi kewajiban kita semua setiap generasi bangsa mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang berdasarkan Pancasila untuk selama-lamanya.
Hal ini disampaikan oleh Forum Insan Sejarah Indonesia (FISI) sebagai bagian dari anak bangsa yang turut mencermati perkembangan kehidupan berbangsa dan bernegara dalam momen menjelang Hari Ulang Tahun Republik Indonesia ke-72.
"Setiap anak bangsa agar menjaga persatuan dan kesatuan nasional, kebhinekaan dan pluralisme haruslah dimaknai dalam konteks memperkuat persatuan Indonesia," kata Koordinator FISI, Nicolo Machia Fely di Jakarta, Senin (14/8).
Menurutnya, kebhinekaan dan pluralisme bukan untuk mempertajam perbedaan. Namun, sebagai upaya pengamalan sila ketiga Pancasila, yaitu Persatuan Indonesia.
Maka dari itu, pihaknya berharap tokoh masyarakat, pimpinan keagamaan, akademisi, dan tokoh lainnya mampu menjadi penyejuk masyarakat dengan pesan-pesan persatuan dan kedamaian.
"Hal ini dilakukan agar terwujud ketenangan masyarakat, yang dimana akhir-akhir ini timbul gejolak tajamnya perbedaan di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara," ujarnya.
"Pimpinan nasional dan pimpinan daerah haruslah menyadari dan memahami bahwa diatas pundaknya terdapat amanat penderitaan rakyat, maka jalankanlah amanat rakyat dengan sebaik-baiknya sebagaimana tujuan Negara kita untuk mencapai kemakmuran masyarakat," lanjut Nicolo.
Ia juga mengimbau agar pemimpin dapat terus melindungi rakyat yang hidupnya kurang beruntung agar tidak tergilas roda jaman.
"Pembangunan yang dilaksanakan haruslah menjamin utamanya agar rakyat yang kurang beruntung mampu menjalani kehidupan dengan sebaik-baiknya," imbuhnya.
Selain itu, lanjut Nicolo, membangun Indonesia juga harus disertai dengan menyeimbangkan antara pembangunan fisik dan nonfisik.
"Mari kita kembali mengingat pesan kemerdekaan dari Panglima Besar Jenderal Sudirman: kemerdekaan satu negara, yang didirikan diatas timbunan runtuhan ribuan jiwa-harta-benda dari rakyat dan bangsanya, tidak akan dapat dilenyapkan oleh manusia siapapun juga," pungkas alumni sejarah Universitas Negeri Jakarta ini.
[sam]
BERITA TERKAIT: