Tak jelas siapa yang mengambil foto Saut dengan kaos ini. Namun, dalam foto yang tersebar di kalangan wartawan ini Saut tampak berdiri tegap sambil sedikit membusungkan dada. Mungkin agar tulisan di kaos itu terlihat jelas. Tangan kirinya menenteng saksofon, sementara jempol tangan kanannya masuk ke kantong celana sebelah kanan.
Entah di mana foto tersebut diambil. Mungkin di ruang kerjanya di KPK atau di rumah. Soalnya, latar foto tersebut adalah rak berisi deretan buku-buku. Di sisi kanan terpasang keyboard plus kursi dari kayu. Di samping rak, sebuah figura bergambar lukisan dari Mata Najwa dan lima pimpinan KPK terpasang.
Soal saksofon yang dipegangnya, Saut memang dikenal sebagai pemain saksofon. Beberapa kali pria kelahiran Medan Belawan ini unjuk kebolehan memainkan alat musik tiup tersebut. Terakhir, adalah saat konser mini Slank bertajuk Jurus Tandur, Maju Terus Pantang Mundur Menolak Hak Angket di depan Gedung KPK pertengahan Juli lalu. Saat itu, Saut berkolaborasi dengan Slank memainkan lagu pamungkas berjudul "Ku Tak Bisa".
Saut memang dikenal sebagai salah satu pimpinan KPK yang keras dan berani saat bicara. Terakhir dia menepis tudingan yang dilayangkan akun Instagram DPR yang menyebut "KPK kerjanya Nguping" dan "Mega Korupsi KPK Diam Saja". Saut mengatakan, bahwa penyidik KPK memiliki keahlian yang mumpuni, termasuk dalam pengawasan. "Menyadap adalah sebagian kecil dari pekerjaan kami," ujarnya.
Juru bicara KPK Febridiansyah saat dikonfirmasi Rakyat Medeka awalnya tak mengetahui soal asal-usul foto tersebut. "Dari Instagram ya?," tanya balik Febri, tadi malam. Namun kemudian, Febri meyakinkan foto tersebut asli dan bukan editan. "Kebetulan ada yang menjual kaos tersebut, dan dibeli. Kemudian dipakai," jelasnya. Saat diminta komentar apakah tulisan kaos tersebut ada hubungannya dengan Hak Angket yang sedang bergulir di DPR kini, Febri enggan berkomentar lebih lanjut.
Seperti diketahui, pekan lalu anggota Pansus Masinton Pasaribu juga memakai kaos yang tulisannya menyindir KPK. Di bagian belakang kaos, tertulis "Pansus, Kalau Benar Kenapa Takut, Kalau Bukan Kita Siapa Lagi". Sementara di bagian depan kaus tertulis kalimat Bring Back Justice pada dada kanan dan Berani Jujur Hebat pada dada kiri.
Pada pada lengan kanan tercetak bendera Indonesia dengan tulisan di bawahnya Pansus Hak Angket KPK. Sedang di lengan kiri tertulis kalimat Fiat Justicia Ruat Caelum yang berarti tegakkan keadilan walaupun langit akan runtuh. Secara khusus Masinton menerangkan maksud slogan Berani Jujur Hebat. Ini adalah sindiran bagi KPK yang hingga saat ini belum bersedia hadir di rapat pansus.
Pengamat komunikasi politik Universitas Brawijaya Nana Abdul Aziz melihat apa yang dipamerkan Saut adalah bagian dari sisi lain perang antara KPK dan Pansus Angket DPR yang terus bergulir. Kata dia, kedua lembaga ini saat ini terlihat mengerahkan semua kekuatan dan sumberdaya untuk saling serang.
Terakhir misalnya adalah sindiran yang dilayangkan akun Instagram @DPR terhadap KPK yang menurutnya sebagai sikap tak beretika. Nana juga menyebut DPR dan KPK saat ini lebih sering terlibat dalam atraksi-atraksi yang bertujuan untuk menggalang kekuatan publik. KPK misalnya menggalang dukungan dengan menggelar konser. "Termasuk pamer kaos ini. Tak bisa dilepaskan dari situasi sekarang," kata Nana, saat dikontak
Rakyat Merdeka, tadi malam.
Menurut Nana, jika cara-cara seperti ini terus dilanjutkan tentunya akan menghabiskan energi kedua pihak. Dia menyarankan dari pada komunikasi hanya serarah terus menerus, lebih baik kedua pihak segera duduk. Pansus misalnya segera mengundang pimpinan KPK. "Dan harapannya pimpinan KPK juga datang agar urusan ini cepat selesai," ujarnya.
Sementara, pengamat politik Emrus Sihombing menilai terbentuknya Pansus Angket KPK adalah pintu masuk untuk memperbaiki DPR dan KPK. Kata dia, jika dalam perjalanan, Pansus membuka fakta-fakta tentang kekurangan KPK, maka KPK harus menanggapi untuk perbaikan. "Kenapa KPK harus takut. Selama yang dibahas bukan materi perkara," kata Emrus, kemarin.
Emrus juga menilai, dengan terbentuknya Pansus Angket maka DPR harus juga memperbaiki diri. Ibaratnya, tak mungkin membersihkan jika sapu yang digunakan juga kotor. Jika begini, dukungan publik terhadap DPR akan berkurang. ***
BERITA TERKAIT: