Kemarin, Prabowo menemui Jokowi di Istana Negara Jakarta, sebagai kunjungan balasan. Dimana, Prabowo lebih dulu menerima Jokowi di Hambalang, tempo hari atau sebelum demo 4 November digelar.
Bagi AS Hikam, bukan kunjungan balasan Prabowo atau statemen keduanya yang menarik untuk dicermati. Tetapi, mengapa Jokowi mengundang Prabowo, bukan Presiden keenam RI yang juga Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
"Pertanyaan ini penting saya kira karena SBY baru sempat bertemu dengan Menko Polhukam Wiranto dan Wapres JK, dan setelah itu membuat pertemuan pers di Cikeas dan menyampaikan pidato "Lebaran Kuda" yang terkenal itu, hanya beberapa hari sebelum demo 411. Kita kemudian membaca statemen Presiden Jokowi bahwa demo yang damai tersebut berakhir ricuh karena ada pihak-pihak yang menungganginya," kata dia seperti dikutip dari aku facebooknya, Jumat (18/11).
Pertanyaan pun muncul di ruang publik mengenai siapa atau pihak mana yang ditengarai sebagai penunggang demo yang konon terbesar dalam sejarah Republik itu. Menurut AS Hikam, tentu saja yang paling mudah adalah lawan-lawan politik Jokowi dan dalam spekulasi publik dan media termasuk SBY atau Prabowo yang merupakan pimpinan oposisi.
"Nah, jika Presiden Jokowi malah menjalin kemesraan politik dengan Prabowo Subianto dan belum mengundang SBY untuk bertemu, apakah lalu spekulasi tentang sang penunggang itu arahnya kepada yang disebut terakhir itu?
Wallahua'lam. Sebab pihak Istana tidak pernah memberikan jawaban yang transparan," ujar AS Hikam.
Yang jelas, lanjut dia, di media nasional dan bahkan internasional, ihwal keterkaitan SBY dalam demo dan kasus Ahok makin mendapat sorotan. Bukan hanya itu, bahkan ada pihak-pihak yang melaporkan SBY ke Bareskrim dengan tuduhan pidatonya pada 2 November 2016 dinilai mengandung hasutan dan menyebar kebencian, serta pernyataan dorongan terhadap umat Islam untuk tetap berdemonstrasi.
Jadi, pertanyaan mengapa SBY tidak dikunjungi atau diundang Presiden Jokowi untuk bertemu bisa berpotensi memperluas spekulasi politik tersebut. Dan menurut hemat AS Hikam, itu seharusnya tidak terjadi.
"Saya kira Presiden Jokowi perlu juga melakukan silaturrahim ke Cikeas ataupun mengundang mantan Presiden keenam tersebut ke Istana, untuk menunjukkan kepada rakyat Indonesia bahwa spekulasi tentang adanya ketegangan antara kedua pemimpin tersebut tidak benar," ucap doktor politik lulusan Hawaii of University AS ini.
Dan ini juga akan membantu pendinginan suasana yang sempat panas dan yang bisa jadi akan memanas apabila pihak-pihak yang menginginkan destabilitas nasional terjadi memanfaatkan spekulasi tersebut.
"Dan saya yakin Presiden Jokowi sudah menunjukkan kepiawaian berkomunikasi politik dengan "blusukan ke atas" yang ternyata berbuah sukses itu," demikian AS Hikam.
[rus]
BERITA TERKAIT: