Yaitu, kenapa Presiden Jokowi tidak berada di Istana untuk menemui atau menerima perwakilan pendemo yang menuntut keadilan soal kasus dugaan penistaan agama oleh Gubernur DKI Jakarta (nonaktif) Basuki Tjahja Purnama "Ahok".
Pengamat komunikasi politik dari Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) Dr. Harmonis mengatakan, Jokowi "menghindar" dari pendemo karena takut disebut anti Ahok.
"Mungkin ada bisikan. Kalau Jokowi terima pendemo, seolah-olah dia pro pendemo dan anti Ahok," ucap Harmonis, Jumat (11/11).
Atau mungkin, lanjut Harmonis, Jokowi takut ada pemaksaan dari pendemo untuk menangkap Ahok hari itu juga. "Bisa juga ada bisikan, yang demo adalah garis keras. Sehingga Jokowi takut ada pemaksaan," ujarnya.
Jokowi sendiri, sebut Sekjen katan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI) ini, adalah tipe pemimpin yang halus tidak suka dipaksa-paksa.
Namun faktanya, masih kata Harmonis, demo yang diikuti ratusan ribu hingga jutaan orang itu secara umum berlangsung kondusif.
Soal siapa pembisik Jokowi, Harmonis mengaku tidak tahu. Yang jelas kata dia, pembisik itu masih dalam lingkaran Istana.
Namun di balik itu semua, tambah Harmonis, Ia mengaku aneh kenapa Jokowi tidak mau menemui pendemo atau menerima perwakilan pendemo.
"Inikan aneh, dia kan pemimpin yang suka blusukan. Tapi ketika masyarakat datang ramai-ramai, dia malah menghilang," tukasnya.
[rus]
BERITA TERKAIT: