"Proses penyusunan panitia Munaslub sampai penyelengaraannya nanti, dipastikan akan berlangsung "panas", mengingat tajamnya perbedaan kepentingan antara dua kubu," kata politisi senior Golkar, Zainal Bintang di Jakarta, Rabu (24/2).
Tapi yang sangat kritis menurut Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Ormas MKGR itu, adalah persaingan antar calon ketua umum (Caketum). Seperti diketahui sejak diputuskannya akan ada Munaslub awal Januari yang lalu, ada 17 nama Caketum yang bertebaran di media. Tapi yang kencang dan dinamis adalah persaingan dua tokoh teras Golkar, yaitu Satya Novanto (Ketua Fraksi Golkar) dan Ade Komarudin (Ketua DPR RI).
Menurut Bintang, menjadi Ketua Umum Golkar itu adalah sebuah prestise tersendiri. Alasannya, Golkar adalah partai senior yang berpengalaman cukup panjang dan teruji oleh jaman. Menjadi Ketua Umum Golkar akan menjadi pengendali parpol yang menjadi pemenang Pemilu kedua pada 2014 dan pemilik 91 suara di DPR.
"Ketua Umum Golkar akan menjadi penentu stabilitas politik dan pemerintahan Jokowi sampai dengan 2019," tambah Bintang yang juga adalah pendiri Eksponen Ormas Tri Karya Golkar (EO-TKG) bersama almarhum Suhardiman pada tahun 2002, dan sekarang menjadi menjabat sebagai Ketua Kordinator Pusat EO-TKG.
Ketua Umum Golkar juga akan menjadi penentu siapa yang akan menjadi Presiden dan Wapres pada tahun 2019. Maka masuk akal jika jabatan Ketua Umum Golkar sangat seksi. "Dan wajar jika sekarang terjadi manuver pembunuhan karakter sesame calon kuat," tambah Bintang lagi.
Mencuatnya kasus "money politik" seorang Caketum di Sulawesi Utara yang diungkap Nurdin Halid dan ramainya di ranah publik tuduhan gratifikasi kepada Ade Komarudin, menurut Bintang adalah pertanda praktek pembunuhan karakter semakin tajam.
"Larangan Ketum Golkar rangkap jabatan sebagai Ketua DPR, juga meruapkan bentuk ganjalan kepada salah seorang calon," demikian Zainal Bintang.
[rus]
BERITA TERKAIT: