Menurutnya, nilai tukar rupiah yang mencapai Rp 14.700 per dolar AS merupakan sebuah peluang yang bisa membuat produk-produk buatan Indonesia semakin kompetitif di pasar global dan domestik. Ini lantara harga produk lokal menjadi lebih murah.
"Rupiah melemah itu faktor bisa genjot ekspor kita," kata Rizal saat ditemui di sela hari batik nasional bertajuk "Pasar Raya Tribute To Batik Indonesia" yang digelar di Pasar Raya, Blok M, Jakarta Selatan, Sabtu (3/10).
Menteri Perekonomian era Presiden Abdurrahman Wahid ini kemudian mencontohkan dua negara Asia Timur, yaitu Jepang dan Tiongkok. Menurutnya, kedua negara industri besar Asia itu justru dengan sengaja melemahkan mata uangnya. Hal ini agar harga produk lokal menjadi murah di pasaran global.
Biaya produksi yang stabil dalam mata uang lokal yang melemah ditambah pembelian dalam bentuk valuta asing membuat penjualan produk lokal kedua negara itu ramai dibeli di pasar global.
"Jepang sengaja buat yen lemah, secara tidak langsung buat barangnya murah dan kompetitif. Begitu juga Tiongkok," sambung mantan Kepala Bulog itu.
Rizal melanjutkan, pelemahan rupiah tidak boleh dipandang sebagai sebuah krisis baru. Tapi harus dipandang sebagai sebuah peluang. Dalam hal ini kepemimpinan yang cerdas dan berani mengambil peluang sangat dibutuhkan.
"Krisis itu poin yang utama dengan
opportunity," tandasnya.
[ian]
BERITA TERKAIT: