Begitu kata Wakil Ketua Umum PPP Fernita Darwis dalam keterangan yang diterima redaksi sesaat lalu, Rabu (23/9).
"Selama ini banyak yang mengaku aktivis anti korupsi, aktivis pro demokrasi, pakar, atau pengamat yang seolah pro rakyat. Tapi ternyata sikap kritis itu hanya untuk mengejar jabatan," ujarnya.
Sikap pragmatis itu, lanjut Fernita, telah melukai hati rakyat. Ini lantaran kepedulian mereka tentang kesengsaraan yang dialami rakyat saat ini telah hilang.
"Murah sekali ternyata membeli mereka. Ilmu yang mereka kejar ternyata dijual murah, tanpa sedikit pun ada penyesalan. Tidak punya idealisme!" kesalnya.
Fernita semakin kesal lantaran para pengamat pragmatis itu kerap menjelek-jelekan partai politik dan politisi. Tapi nyatanya, justru mereka yang melakukan apa yang mereka kritisi itu.
"Mereka selalu mengkritik, partai politik tidak demokratis, partai politik korup, partai politik serakah. Sekarang rakyat bisa melihat sendiri, yang mereka kritik sekarang justru yang mereka lakukan sendiri," tandasnya.
Sejumlah aktivis dan pengamat memang merapatkan barisan ke pemerintah. Sebut saja pengamat hukum tata negara Refly Harus yang telah menjabat sebagai Komisaris Utama (Komut) di BUMN PT. Jasamarga. Sementara teranyar, aktivis yang juga pengamat politik Fadjroel Rachman diangkat menjadi Komisaris PT Adhi Karya Tbk.
[ian]
BERITA TERKAIT: