Prmyatan ini disampaikan oleh Menko Kemaritiman, Indroyono Soesilo, usai pertemuan dengan dengan Dirjen CIFOR, Peter Holmgren, di kantor Kemenko Kemaritiman, Jakarta, Senin sore (13/1).
Dalam pertemuan tersebut disepakati bahwa Kemenko Kemaritiman dan CIFOR akan melakukan program pelestarian hutan mangrove yang tumbuh di pesisir pantai Indonesia sebagai wahana penyerap karbon, tempat pemijahan ikan, sebagai proteksi abrasi pantai dan sebagai sumber pangan.
Dalam kesempatan yang sama, Dirjen CIFOR, Peter Holmgren, menyatakan dengan luas hutan mangrove di Indonesia sekitar 3 juta hektar, maka Indonesia merupakan negara yang memiliki hutan mangrove yang terluas di dunia. Karena itu harus dilestarikan dalam rangka menghadapi perubahan iklim.
Peter menambahkan, mangrove Indonesia sudah menjadi bagian dari Program Karbon Biru (Blue Carbon), yang ditargetkan bisa mendukung komitmen Indonesia menurunkan emisi karbon secara sukarela hingga 26 persen pada tahun 2020 dan hingga 41 persen dengan dukungan internasional.
Indroyono Soesilo menambahkan, dalam waktu dekat Kemenko Kemaritiman akan menghimpun ahli-ahli mangrove dari Balitbang KP, BPPT, LIPI, IPB, Universitas Diponegoro, Universitas Hassanudin, Universitas Sam Ratulangi dan Universitas Jenderal Soedirman guna menyusun proposal kegiatan Pelestarian Mangrove Indonesia bersama ahli-ahli CIFOR, FAO dan UNDP .
Proposal juga diarahkan guna memobilisasi sumber dana dari Global Environmental Facility (GEF), Jepang, Jerman dan Norwegia. Pertemuan ahli-ahli mangrove dari mancanegara direncanakan akan digelar di Jakarta pada April akan datang.
[ald]
BERITA TERKAIT: