Wakil Sekjen DPP Partai Gerindra yang juga anggota DPR RI, Aryo Djojohadikusumo, mengatakan penolakan Gerindra itu berdasarkan situasi yang terjadi di tengah-tengah masyarakat.
"Rakyat belum disiapkan untuk menghadapi realita harga BBM tinggi. Fraksi Gerindra ingin pemerintah memberikan solusi lebih dulu kepada rakyat, setelah itu baru naikkan harga BBM," ujar Aryo saat ditemui di gedung DPR, Senayan, Jakarta (Selasa, 11/11).
Dengan kenaikan harga BBM bersubsidi sebesar Rp 3.000, berarti bensin premium mengalami kenaikan sebesar 46 persen dan solar mengalami kenaikan lebih dari 50 persen.
Persentase kenaikan harga BBM yang begitu besar akan dengan cepat berpengaruh pada laju inflasi. Barang-barang kebutuhan pokok rakyat akan mengalami lonjakan drastis. Sementara itu, pemerintah belum memberikan solusi apapun bagi rakyat agar kemiskinan tidak bertambah parah.
"Jadi sekali lagi, kami menolak keras kenaikan BBM dengan kondisi seperti itu," tegas Ketua Umum Tunas Indonesia Raya (Tidar) ini.
[ald]
BERITA TERKAIT: