"Somasi, kalau dilakukan oleh Presiden, pejabat, atau pemangku amanat menjadi salah alamat. Apalagi tuduhan itu ditujukan kepada rakyat," ujar Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin kepada wartawan di Jakarta (Jumat, 31/1).
Somasi dilayangkan SBY melalui tim advokasi dan konsultan hukum Presiden SBY dan keluarga karena tersinggung dengan Rizal Ramli yang menengarai jabatan wapres yang diterima Boediono sebagai gratifikasi karena sukses membailout Bank Century Rp 6,7 triliun.
Din Syamsuddin menganggap somasi tersebut lucu karena presiden menyomasi rakyatya sendiri. Terlebih, objek yang disomasikan yakni berupa kritik sosial dianggap oleh Presiden sebagai fitnah.
"Sebagai orang yang sedikit belajar politik, pilihan Presiden untuk menyomasi orang tertentu akan menjadi bumerang, kontraproduktif," paparnya.
Lebih lanjut, Din mendorong pihak yang disomasi untuk tidak takut, bahkan jika perlu melakukan somasi balik. Din berpendapat bahwa somasi yang dilayangkan Presiden SBY merupakan gejala psikologi panik. Sikap demikian bukanlah sikap negarawan yang demokrat dari seorang kepala negara.
"Ini bisa membungkam demokrasi dan pertanda sebuah kepemimpinan yang represif dan otoriter," ujarnya.
[dem]
BERITA TERKAIT: