"Bismillah, saya siap untuk menyampaikan visi misi dan berbagi solusi masalah bangsa,†ujar Ali Masykur Musa di Medan (Selasa, 21/1).
Dalam debat capres kali ini, Ali Masykur seperti tertulis dalam keterangan pers yang diterima redaksi, menyatakan akan mengusung ide tentang diplomasi budaya sebagai jalan untuk meningkatkan martabat bangsa. Dirinya mengakui bahwa ide tersebut terinsipirasi dari tempat dilaksanakannya Debat Capres di Medan, yaitu Istana Maimun.
"Untuk mengembalikan peradaban Indonesia yang saat ini dikepung kepentingan uang, budaya menjadi senjata ampuh yang harus digunakan. Dalam hal ini saya terilmahi dari tempat berlangsungnya acara nanti malam, Istana Maimun yang pernah menjadi pusat kebudayaan melayu," ungkap Cak Ali, sapaan Ali Masykur Musa.
Cak Ali menilai, ancaman terhadap keberadaan warisan budaya semakin mengkhawatirkan. Pembangungan dan modernisasi adalah penyebab terancamnya eksistensi warisan budaya. Paradigma pembangunan yang pro kapital dan berorientasi ekonomi telah menempatkan aspek budaya pada posisi marjinal. Dan, sayangnya hal ini bukan hanya terjadi di daerah perkotaan, tetapi sudah mulai menjalar ke daerah pedesaan.
"Kalau dulu politik dan ekonomi pernah dijadikan panglima, sekarang di era reformasi ini justru uang yang menjadi panglima, ada baiknya kini kebudayaan dijadikan panglima," terang Ketua Umum Ikatan Sarjana NU ini.
Lebih lanjut, penggalian kembali kebudayaan tradisi nusantara adalah awal dari revitalisasi budaya. Kebudayaan, kata Cak Ali, memiliki tiga peran penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pertama, kebudayaan sebagai pengikat cita-cita kebangsaan, kedua memberi arah dan muatan pendidikan. Ketiga sebagai media diplomasi. Itulah daya saing Indonesia ke depan.
[dem]
BERITA TERKAIT: