Setelah sempat menguat tipis pada sesi sebelumnya, harga menyusut 70 Ringgit ke level 4.446 Ringgit per metrik ton.
Penurunan ini dipicu oleh aksi jual pada kontrak palm olein di Pasar Dalian yang merosot 1,35 persen, serta pelemahan minyak kedelai di bursa yang sama. Karena bersaing dalam pasar minyak nabati global, pergerakan harga sawit umumnya mengekor tren harga minyak pesaingnya.
Pasar Berjangka Dalian (DCE) adalah bursa berjangka utama di Tiongkok yang memengaruhi harga global untuk komoditas seperti minyak sawit (CPO), PVC, dan plastik lainnya
Kondisi pasar kian tertekan oleh data internal Malaysia yang menunjukkan kenaikan stok CPO sepanjang April akibat lonjakan produksi dan impor di tengah lesunya ekspor.
Ketidakpastian juga muncul dari perbedaan data ekspor awal Mei, di mana Intertek mencatat kenaikan sebesar 8,5 persen sementara AmSpec justru melaporkan penurunan 10,8 persen.
Dari sisi teknikal, analis memperkirakan harga berpotensi turun lebih jauh menuju kisaran 4.410 hingga 4.452 Ringgit per metrik ton.
Meski demikian, terdapat beberapa faktor yang menahan kejatuhan harga lebih dalam. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran telah mengerek harga minyak mentah dunia sebesar 1 persen, sehingga meningkatkan daya tarik sawit sebagai bahan baku biodiesel.
Selain itu, pelemahan mata uang ringgit terhadap Dolar AS membuat harga CPO menjadi lebih terjangkau bagi pembeli internasional, yang sedikit memberikan napas bagi aktivitas perdagangan di pasar global.
BERITA TERKAIT: