"Pemimpin tidak seharusnya hanya menjadi penyambung lidah rakyat. Pemimpin harus punya kecerdasan lebih dari rakyat yang dipimpinnya. Kalau cuma jadi penyambung lidah rakyat, rakyatnya bodoh maka jadi penyambung kebodohan," ujar Yusril Ihza Mahendra ketika menyampaikan visi misi dalam debat publik pertama Konvensi Capres Rakyat di Aula Balai Adika Hotel Majapahit Surabaya (Minggu, 5/1).
Menurut Yusril, seorang pemimpin harus punya gagasan yang mendahului zamannya, bukan yang ada di zaman dia berkuasa. Selain harus memiliki gagasan yang jauh ke depan, pemimpin juga harus berani menghadapi resiko tidak populer karena keputusaannya dinilai buruk oleh banyak orang.
"Biarpun keputusannya di awal-awal dikecam, akan disalahkan, tetapi waktulah yang menentukan. Nanti rakyat akan tahu keputusan itu benar. Saya salah satu orang diantara pemimpin jenis ini. Sering bicara tidak populer, tidak dipikirkan orang banyak tapi orang kemudian tercengang. Oh, kok bisa," demikian Yusril.
Yusril mengatakan Indonesia telah merdeka sebagai sebuah bangsa sejak 17 Agustus 1945. Bangsa ini telah menyusun kesepakatan-kesepakatan membangun bangsa ke depan. Semuanya jelas disebut dalam pembukaan UUD 1945. Tapi, katanya, kita akan jadi bangsa maju dan bedaulat seperti digariskan pendiri kita sejak 1945 bila pemimpin mendatang memegang teguh kesinambungan historis.
"Kita sudah menjalani kemerdekaan 63 tahun dengan periode berbeda-beda. Era demokrasi terpimpin, era Orde Baru, dan Orde reformasi sekarang. Tujuan kita berbangsa tetap sama, makanya satu hal yang akan saya pegang teguh, yaitu
kontinuitas. Yang harus kita lakukan adalah meneruskan hal-hal yang telah dicapai pemimpin di masa lalu, meluruskan yang kurang tepat, dan memperbaikinya," demikian Yusril.
Debat publik pertama Konvensi Capres Rakyat sendiri berlangsung meriah. Debat menghadirkan tiga panelis. Guru Besar Politik Unair yang juga mantan Komisioner KPU Prof. DR ramlan Surbakti, Guru Besar Politik Universitas Parahyangan Bandung Prof. Asep Warlan Yusuf, dan pengajar ekonomi Unair, Dr. Tjuk Kastriadi.
Adapun tujuh peserta konvensi yakni, tokoh perempuan Anni Iwasaki, Bupati Kutai Timur Isran Noor, pengusaha Ricky Sutanto, Menteri Perekonomian era Pemerintahan Abdurrahman Wahid Rizal Ramli, Ketua Dewan Syuro PBB Yusril Ihza Mahendra, Rektor Universitas Islam Eropa Sofjan Siregar, dan aktivis senior Tony Ardi.
[ian]