Namun tidak demikian dengan anggota Komisi I dari Fraksi Hanura, Susaningtyas Nefo Handayani Kertopati. Bagi Susaningtyas, mengungkap kasus ini memang butuh waktu dan tidak bisa seperti main sim-salabim. Sebab butuh waktu dalam mengumpulkan bahan keterangan sebagai dasar analisa untuk laporan A1 kepada Kapolri.
"Justru aneh berbagai pernyataan yang gegabah mengatakan itu dipastikan jaringan lama atau baru," ujar Susaningtyas kepada
Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Kamis, 21/8).
Menurut Nuning, begitu Susaningtyas akrab disapa, bisa saja pelaku penembakan adalah jaringan terorisme dari sel terputus. Atau bahkan bisa juga pelaku penembakan punya motif lain.
"Ini kan perlu hasil labfor juga. Olah Tempat Kejadian Perkara (TKP), hanya awal dari pembuktian. Tentu juga perlu analisa dari hasil olah TKP yang telah dilakukan," jelas Nuning, yang juga pakar bidang intelijen, sambil mengatakan bahwa polisi memang harus membuka semua motif pelaku dibaliknya.
Maka atas dasar itulah Nuning berharap jangan sampai justru proses pengembangannya terjebak pada satu sudut saja. Ini penting, agar siapa pelakunya secara akurat bisa ditangkap.
"Saya juga menghimbau agar Satuan tugas Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) tidak grasak-grusuk apalagi kasar hingga melanggar HAM orang yang tak bersalah," tegas Nuning, sambil menyarankan agar intel polri juga menelusuri jaringan kelompok senjata api di Indonesia ini dengan Operasi Kontra Terror dan bukan Operasi Anti Terror.
[rus]
BERITA TERKAIT: