Demikian disampaikan Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane seperti dalam keterangan tertulisnya yang diterima redaksi, Minggu (18/7).
Jelas Neta, belum lama ini pihaknya mendapat sejumlah laporan tentang adanya seorang lelaki berinisial H mengaku sebagai anak angkat seorang pejabat tinggi Polri berpangkat Komisaris Jenderal (Komjen). H lelaki asal Boyolali itu bermukim di Bekasi. Kemana-mana dia selalu membawa dua pucuk senjata api. Walau warga sipil, H selalu menakut-nakuti polisi di jajaran bawah, terutama para kapolres dan pejabat menengah di polda dan polres. H selalu mengancaman akan melaporkan pejabat polisi tersebut ke bapak angkatnya agar segera diganti dari jabatannya. Tujuan H sesungguhnya adalah memeras atau meminta uang kepada korbannya.
IPW sudah mengkonfirmasikan soal ini kepada Komjen bersangkutan yang mengatakan, sama sekali tidak mengenal H. Pejabat tinggi Polri itu berjanji akan menindaklanjuti laporan tersebut. Berkaitan dengan itu IPW kata Neta mengimbau masyarakat dan mencermati kasus ini agar tidak mudah tertipu oleh H.
"Jajaran kepolisian harus segera bertindak tegas dan menangkap H agar tidak banyak jatuh korban. Sebab apa yang dilakukan H sangat merusak citra Polri dan citra pejabat tinggi Polri," ujar Neta.
Sepanjang 2013 ini, kasus orang yang mengaku sebagai anak petinggi Polri atau anak jenderal sudah tiga kali terjadi. Juli lalu, Febri mahasiswa Trisakti mengaku sebagai anak Kapolri Jenderal Timur Pradopo dan memaksa petugas untuk membuka portal Transjakarta di Galur, Jakpus. Awal 2013, M Ardinal yang sedang berdemo di depan Istana Merdeka bentrok dengan wartawan. Saat itu Ardinal yang juga mahasiswa Trisakti ini mengaku anak seorang Brigjen TNI.
[rus]
BERITA TERKAIT: